Kegiatan penanaman padi varietas INPARI 32 dan pengaplikasian Pupuk Hayati Cair (PHC) Azosplant dilakukan sebagai upaya peningkatan produktivitas pertanian di Subak Banyumala.
Padi varietas INPARI 32 dipilih karena memiliki potensi hasil tinggi, toleran penyakit, serta adaptif terhadap kondisi agroklimat di Buleleng. Sementara PHC Azosplant digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan akar, efisiensi penyerapan hara, serta merangsang perkembangan vegetatif dan generatif.
Kegiatan ini bertujuan untuk :
1. Mengoptimalkan produksi padi melalui varietas unggul dan teknologi hayati.
2. Mengurangi penggunaan pupuk kimia dan meningkatkan keberlanjutan lingkungan.
3. Mengetahui respons pertumbuhan padi INPARI 32 terhadap aplikasi PHC Azosplant.
Perlakuan benih sebelum ditanam :
a. Persemaian
1. Benih INPARI 32 direndam selama 24 jam dan diperam 24 jam.
2. Benih ditebar pada media semai yang telah diberi pupuk organik.
3. Azosplant diaplikasikan pada fase semai sesuai dosis anjuran
b. Pengolahan Lahan
1. Pembajakan dan pelumpuran dilakukan sebanyak 2 kali.
2. Pemberian pupuk dasar organik untuk meningkatkan kesuburan awal.
c. Penanaman
Bibit berumur 18–21 hari ditanam sesuai kebiasaan subak.
Jarak tanam: 25 × 25 cm / 30 × 30 cm.
d. Pengaplikasian PHC Azosplant
1. Aplikasi 1 (awal tanam) : Azosplant dilarutkan dalam air dan disiramkan pada perakaran.
2. Aplikasi 2 (fase vegetatif): Penyemprotan pada umur 20–25 HST.
3. Aplikasi 3 (fase generatif): Aplikasi tambahan untuk meningkatkan pengisian malai
Untuk selanjutnya dilakukan : Pemeliharaan,
Pengairan mengikuti jadwal subak,
Penyiangan umur 20 & 40 HST,
Pemupukan susulan (jika diperlukan),
Pengendalian hama terpadu (PHT)
Kendala Pelaksanaan
1. Curah hujan tidak merata / perubahan cuaca.
2. Gulma cepat tumbuh pada awal musim tanam.
Pengamatan tetap dilakukan oleh PPL pendamping WILBIN