Pada hari Kamis, 15 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Monitoring Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian Rice Transplanter yang berlokasi di Subak Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, tepatnya di lahan milik I Wayan Dinasa, selaku Kelian Subak Dangin Yeh, dengan luas lahan olah sekitar 25 are. Kegiatan ini dilaksanakan oleh JF Pengawas Alat dan Mesin Pertanian, Penata Layanan Operasional, serta Operator Layanan Operasional Bidang PSP, dan didampingi oleh Penyuluh Pertanian Desa Giri Emas. Monitoring ini merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pengawasan pemanfaatan alsintan bantuan pemerintah agar dapat digunakan secara optimal, tepat guna, dan berkelanjutan oleh kelompok tani.
Monitoring dilakukan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan rice transplanter di lapangan, kesiapan petani dalam mengoperasikan alat, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi selama penggunaan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa alsintan rice transplanter berfungsi dengan baik dan mampu memberikan dampak positif terhadap efisiensi usaha tani padi.
Berdasarkan hasil monitoring, rice transplanter telah dimanfaatkan oleh petani sesuai dengan peruntukannya, khususnya dalam kegiatan tanam padi. Menurut keterangan petani, penggunaan rice transplanter sangat membantu mempercepat proses tanam. Apabila menggunakan metode tanam manual, proses penanaman padi pada lahan seluas 25 are memerlukan waktu sekitar 1 hingga 2 hari, sedangkan dengan menggunakan rice transplanter, proses tanam dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 1 jam. Selain itu, penggunaan alat ini menghasilkan jarak tanam yang lebih seragam sehingga berpotensi mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi.
Dari sisi efisiensi biaya, petani menyampaikan bahwa penggunaan rice transplanter dapat menekan biaya tanam secara signifikan. Biaya operasional yang dikeluarkan hanya sekitar Rp.50.000 untuk pembelian 4–5 liter bahan bakar minyak (BBM) dalam satu kali tanam, jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode tanam manual yang memerlukan biaya jasa tanam sekitar Rp.300.000–Rp.400.000 per satu kali tanam.
Namun demikian, masih ditemukan beberapa kendala di lapangan, antara lain keterbatasan keterampilan operator serta kondisi lahan yang belum sepenuhnya sesuai untuk penggunaan rice transplanter. Menindaklanjuti hal tersebut, petugas monitoring memberikan arahan dan pendampingan teknis kepada petani serta mendorong anggota subak untuk berlatih dan meningkatkan keterampilan dalam mengoperasikan alat rice transplanter.
Secara keseluruhan, kegiatan monitoring pemanfaatan rice transplanter berjalan dengan baik dan memberikan gambaran bahwa alsintan tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung modernisasi pertanian. Diharapkan ke depan pemanfaatan rice transplanter dapat terus ditingkatkan, disertai dengan pendampingan serta perawatan alat secara berkala, sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.