(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Waspada Belalang Kembara (Locusta migratoria), Ancaman Tersembunyi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura

Admin distan | 19 Januari 2026 | 9 kali


 

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Kubutambahan

 

Belalang kembara memiliki fase populasi yang khas, yaitu fase soliter dan fase gregarius. Fase soliter terjadi ketika belalang kembara berada pada populasi rendah, hidup secara individual di suatu hamparan, serta umumnya tidak menimbulkan kerusakan berarti pada tanaman di sekitarnya. Sebaliknya, fase gregarius terjadi ketika belalang kembara membentuk kelompok besar. Pada fase ini, belalang muda (nimfa) akan berpindah tempat secara berkelompok dengan berjalan atau melompat, sedangkan belalang dewasa berpindah tempat dengan cara terbang secara serempak dalam kelompok besar. Saat belalang kembara hinggap di pertanaman, serangan yang ditimbulkan dapat sangat merugikan karena biasanya belalang akan memakan bagian daun tanaman hingga habis.



 

Bioekologi Hama

Belalang kembara (Locusta migratoria Linnaeus) termasuk ke dalam Ordo Orthoptera dan memiliki sebaran geografis yang sangat luas, meliputi Afrika, Asia, Eropa, hingga Australia. Di Indonesia, L. migratoria dikenal sebagai salah satu hama penting pada tanaman pangan, khususnya padi, jagung, sorgum, serta berbagai jenis rumput. Imago L. migratoria berukuran relatif besar dengan panjang tubuh sekitar 35–55 mm. Warna tubuh bervariasi, mulai dari cokelat, hijau, hingga kekuningan, tergantung pada fase hidup dan kondisi lingkungan. Sayap berkembang sempurna sehingga memungkinkan serangga ini melakukan migrasi jarak jauh. Nimfa tidak memiliki sayap dan mengalami beberapa kali pergantian kulit (instar) sebelum berkembang menjadi imago. Daur hidup L. migratoria terdiri atas tiga stadia, yaitu telur, nimfa, dan imago. Telur diletakkan secara berkelompok dalam bentuk ootheka di dalam tanah pada kedalaman sekitar ±5–10 cm. Masa inkubasi telur berkisar antara 10–30 hari, bergantung pada suhu dan kelembapan lingkungan. Stadium nimfa berlangsung melalui 5–6 instar selama kurang lebih 30–40 hari. Imago dapat hidup selama 2–5 bulan dan mampu bereproduksi beberapa kali dalam satu siklus hidupnya. Secara bioekologis, L. migratoria memiliki dua fase utama, yaitu fase soliter dan fase gregarius. Pada fase soliter, individu hidup terpencar dengan kepadatan populasi rendah sehingga tingkat kerusakan tanaman relatif kecil. Namun, pada fase gregarius, belalang hidup berkelompok dalam populasi besar, disertai perubahan perilaku, fisiologi, dan morfologi. Pada kondisi ini, belalang mampu melakukan migrasi massal dan berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman yang sangat parah.



 

Faktor Lingkungan

Habitat utama L. migratoria meliputi lahan terbuka seperti sawah, padang rumput, tegalan, serta daerah rawa musiman. Beberapa faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi belalang kembara antara lain curah hujan, suhu, kelembapan udara, dan ketersediaan pakan. Musim kering yang diikuti oleh hujan awal sering kali memicu peningkatan populasi, karena kondisi tersebut sangat mendukung penetasan telur serta pertumbuhan dan perkembangan nimfa.



 

Strategi Pengendalian OPT

1.      Pengendalian dapat dilakukan melalui pengaturan pola tanam, antara lain dengan menerapkan sistem tumpang sari menggunakan komoditas tanaman yang kurang disukai belalang kembara, seperti kelompok tanaman kacang-kacangan.

2.      Pengendalian mekanis dilakukan melalui gerakan massal sesuai dengan stadia populasi belalang kembara, antara lain: a) Stadia telur, pengamatan intensif pada areal tempat kelompok belalang dewasa beraktivitas perlu dilakukan untuk mengetahui lokasi peletakan telur. b) Stadia nimfa, sekitar dua minggu setelah kelompok belalang kembara hinggap, perlu dilakukan pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya nimfa. Pengendalian pada stadia nimfa merupakan kunci utama karena belalang belum bersayap dan masih mudah dikendalikan. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara memukul, menjaring, membakar, atau menggunakan perangkap. Pengendalian nimfa menggunakan jaring dilakukan dengan menggiring nimfa ke area terbuka untuk kemudian dimusnahkan.

3.      Pada kondisi populasi tinggi, diperlukan upaya penurunan populasi dalam waktu singkat. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan adalah penggunaan insektisida berbahan aktif dimehipo, fipronil, atau beta sipermetrin. Pengendalian dengan insektisida kimia yang tepat sebaiknya dilakukan sejak stadia nimfa kecil karena pada fase ini belalang belum menimbulkan kerusakan berat dan masih lebih peka terhadap insektisida. Kegiatan pengendalian dapat dilakukan pada siang hari. Apabila perkembangan populasi belalang di areal terpencil tidak diketahui atau terlambat ditangani, maka pengendalian imago dapat dilakukan pada malam hari saat belalang beristirahat, yaitu mulai senja hingga pagi hari.

4.      Apabila areal yang terserang belalang kembara masih berada pada musim tanam awal, upaya penanaman kembali dapat dilakukan. Tanaman yang direkomendasikan adalah tanaman yang kurang disukai belalang kembara, seperti kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kacang panjang, tomat, kacang tanah, petai, kubis, dan sawi.

 


Sumber Referensi:

Kalshoven, L. G. E. (1981). The Pests of Crops in Indonesia. Revised and translated by P. A. van der Laan. Jakarta: PT Ichtiar Baru–Van Hoeve.

Balai Penelitian Tanaman Padi. (2015). Hama dan Penyakit Penting Tanaman Padi serta Pengendaliannya. Sukamandi: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. (2018). Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Pangan. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.