(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Daun Padi Menggulung dan Memutih: Serangan Hama Putih Palsu di Subak Banjar Tengah

Admin distan | 21 Januari 2026 | 288 kali

 

Oleh :

(I Kade Purnawirawan Putra, S.P./ POPT Ahli Pertama Kecamatan Buleleng)

 

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang memiliki peranan strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Keberhasilan produksi padi sangat ditentukan oleh pengelolaan budidaya yang baik serta kemampuan dalam mengendalikan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT, khususnya hama daun, dapat menyebabkan penurunan luas bidang fotosintesis sehingga berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman dan potensi hasil panen apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat dan berkelanjutan. Salah satu hama daun yang sering dijumpai pada pertanaman padi adalah hama putih palsu. Hama ini menyerang tanaman padi dengan cara menggulung daun menggunakan benang halus, kemudian memakan jaringan hijau daun dari bagian dalam gulungan.

Aktivitas makan larva menyebabkan daun tampak berwarna putih transparan karena jaringan klorofil habis termakan, sementara epidermis daun bagian luar masih tersisa. Serangan hama putih palsu umumnya terjadi pada fase vegetatif hingga awal fase generatif, yaitu fase pertumbuhan yang sangat menentukan pembentukan anakan produktif dan akumulasi biomassa tanaman.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, serangan hama putih palsu ditemukan pada pertanaman padi di Subak Banjar Tengah, Desa Tukadmungga, dengan luas serangan sekitar 0,5 hektar. Tanaman padi yang terserang merupakan varietas Inpari 32 dengan umur tanaman sekitar 50 hari setelah tanam. Pada umur tersebut, tanaman berada pada fase vegetatif akhir. Gejala serangan yang terlihat di lapangan antara lain daun padi menggulung memanjang, permukaan daun tampak memutih, serta menurunnya kondisi visual pertanaman akibat berkurangnya jaringan hijau daun yang berfungsi sebagai tempat fotosintesis.

Terjadinya serangan hama putih palsu di lokasi pengamatan diduga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan hama, seperti kelembapan udara yang relatif tinggi, pertanaman padi yang rimbun, serta ketersediaan daun muda dalam jumlah cukup banyak. Selain itu, pertanaman yang seragam dan penggunaan pupuk nitrogen dalam dosis relatif tinggi turut mendorong pertumbuhan vegetatif yang lebat, sehingga menyediakan habitat dan sumber pakan yang optimal bagi larva hama putih palsu.

Meskipun tingkat serangan yang teramati masih tergolong ringan hingga sedang, keberadaan hama putih palsu tetap berpotensi menurunkan produktivitas tanaman padi apabila tidak segera dikendalikan. Kerusakan jaringan hijau daun akibat aktivitas makan larva dapat mengurangi kemampuan fotosintesis tanaman, menghambat pertumbuhan, serta berpengaruh terhadap pembentukan malai dan pengisian gabah pada fase generatif. Apabila serangan terjadi secara luas dan berkelanjutan, potensi kehilangan hasil dapat meningkat secara signifikan.

Upaya pengendalian yang direkomendasikan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu. Pengendalian kultur teknis dilakukan dengan menjaga pertumbuhan tanaman agar tidak terlalu rimbun melalui pemupukan berimbang serta pengaturan pengairan yang baik. Pengamatan rutin perlu ditingkatkan untuk mendeteksi keberadaan gulungan daun sejak dini. Pelestarian musuh alami, seperti parasitoid telur dan larva, perlu diutamakan dengan menghindari penggunaan insektisida berspektrum luas. Pengendalian kimia dilakukan secara selektif dan terbatas, hanya apabila tingkat serangan telah melewati ambang kendali, dengan menggunakan insektisida yang direkomendasikan dan diaplikasikan sesuai dengan prinsip tepat dosis, tepat waktu, dan tepat sasaran.

Dengan penerapan langkah pengendalian yang tepat dan terpadu, serangan hama putih palsu pada tanaman padi varietas Inpari 32 di Subak Banjar Tengah, Desa Tukadmungga, diharapkan dapat ditekan sehingga tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil panen. Kegiatan pengamatan rutin dan pengendalian dini menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan pertanaman padi serta mendukung keberlanjutan produksi padi di wilayah tersebut.