Oleh :
(I Kade Purnawirawan Putra, S.P./ POPT Ahli Pertama
Kecamatan Buleleng)
Tanaman padi
(Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang memiliki peranan
strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Keberhasilan produksi padi sangat
ditentukan oleh pengelolaan budidaya yang baik serta kemampuan dalam
mengendalikan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT,
khususnya hama daun, dapat menyebabkan penurunan luas bidang fotosintesis
sehingga berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman dan potensi hasil
panen apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat dan berkelanjutan. Salah
satu hama daun yang sering dijumpai pada pertanaman padi adalah hama putih
palsu. Hama ini menyerang tanaman padi dengan cara menggulung daun menggunakan
benang halus, kemudian memakan jaringan hijau daun dari bagian dalam gulungan.
Aktivitas
makan larva menyebabkan daun tampak berwarna putih transparan karena jaringan
klorofil habis termakan, sementara epidermis daun bagian luar masih tersisa.
Serangan hama putih palsu umumnya terjadi pada fase vegetatif hingga awal fase
generatif, yaitu fase pertumbuhan yang sangat menentukan pembentukan anakan
produktif dan akumulasi biomassa tanaman.
Berdasarkan hasil pengamatan
lapangan, serangan hama putih palsu ditemukan pada pertanaman padi di Subak
Banjar Tengah, Desa Tukadmungga, dengan luas serangan sekitar 0,5 hektar.
Tanaman padi yang terserang merupakan varietas Inpari 32 dengan umur tanaman
sekitar 50 hari setelah tanam. Pada umur tersebut, tanaman berada pada fase
vegetatif akhir. Gejala serangan yang terlihat di lapangan antara lain daun
padi menggulung memanjang, permukaan daun tampak memutih, serta menurunnya
kondisi visual pertanaman akibat berkurangnya jaringan hijau daun yang
berfungsi sebagai tempat fotosintesis.
Terjadinya
serangan hama putih palsu di lokasi pengamatan diduga dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan yang mendukung perkembangan hama, seperti kelembapan udara yang
relatif tinggi, pertanaman padi yang rimbun, serta ketersediaan daun muda dalam
jumlah cukup banyak. Selain itu, pertanaman yang seragam dan penggunaan pupuk
nitrogen dalam dosis relatif tinggi turut mendorong pertumbuhan vegetatif yang
lebat, sehingga menyediakan habitat dan sumber pakan yang optimal bagi larva
hama putih palsu.
Meskipun
tingkat serangan yang teramati masih tergolong ringan hingga sedang, keberadaan
hama putih palsu tetap berpotensi menurunkan produktivitas tanaman padi apabila
tidak segera dikendalikan. Kerusakan jaringan hijau daun akibat aktivitas makan
larva dapat mengurangi kemampuan fotosintesis tanaman, menghambat pertumbuhan,
serta berpengaruh terhadap pembentukan malai dan pengisian gabah pada fase
generatif. Apabila serangan terjadi secara luas dan berkelanjutan, potensi
kehilangan hasil dapat meningkat secara signifikan.
Upaya pengendalian yang
direkomendasikan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu.
Pengendalian kultur teknis dilakukan dengan menjaga pertumbuhan tanaman agar
tidak terlalu rimbun melalui pemupukan berimbang serta pengaturan pengairan
yang baik. Pengamatan rutin perlu ditingkatkan untuk mendeteksi keberadaan
gulungan daun sejak dini. Pelestarian musuh alami, seperti parasitoid telur dan
larva, perlu diutamakan dengan menghindari penggunaan insektisida berspektrum
luas. Pengendalian kimia dilakukan secara selektif dan terbatas, hanya apabila
tingkat serangan telah melewati ambang kendali, dengan menggunakan insektisida
yang direkomendasikan dan diaplikasikan sesuai dengan prinsip tepat dosis,
tepat waktu, dan tepat sasaran.
Dengan
penerapan langkah pengendalian yang tepat dan terpadu, serangan hama putih
palsu pada tanaman padi varietas Inpari 32 di Subak Banjar Tengah, Desa
Tukadmungga, diharapkan dapat ditekan sehingga tidak berdampak signifikan
terhadap pertumbuhan dan hasil panen. Kegiatan pengamatan rutin dan
pengendalian dini menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan pertanaman padi
serta mendukung keberlanjutan produksi padi di wilayah tersebut.