(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Identifikasi dan Pengendalian Kutu Putih (Planococcus spp.) sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kakao

Admin distan | 29 Januari 2026 | 11 kali

 

Oleh : I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukasada )

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam meningkatkan pendapatan petani. Namun, produktivitas kakao sering mengalami penurunan akibat gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), salah satunya adalah kutu putih dari genus Planococcus, terutama Planococcus minor dan Planococcus citri. Hama ini bersifat polifag, memiliki kemampuan berkembang cepat, dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada daun, batang, serta buah kakao. Serangan yang tidak dikendalikan dengan baik dapat menurunkan hasil hingga mencapai 50% serta memicu munculnya penyakit sekunder akibat embun madu yang dihasilkannya.

Secara morfologi, kutu putih Planococcus spp. memiliki tubuh lunak berbentuk oval dengan ukuran relatif kecil, berkisar antara 2–4 mm. Seluruh permukaan tubuhnya tertutup lapisan lilin berwarna putih menyerupai kapas, yang berfungsi sebagai pelindung dari lingkungan dan semprotan pestisida. Pada bagian tepi tubuh terdapat filamen lilin yang tampak seperti benang halus. Imago betina tidak bersayap dan bergerak lambat, sedangkan jantan memiliki sepasang sayap dan berumur sangat singkat. Telur diletakkan dalam kantong telur (ovisak) yang juga tertutup lapisan lilin putih dan biasanya ditemukan pada celah buah, ketiak daun, serta bagian batang yang terlindung.

Siklus hidup Planococcus spp. dimulai dari telur, nimfa instar I, II, dan III, kemudian berkembang menjadi imago. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, satu siklus hidup dapat berlangsung sekitar 25–40 hari. Nimfa yang baru menetas akan segera mencari jaringan tanaman untuk menghisap cairan sel. Perkembangbiakan berlangsung cepat terutama pada musim kemarau dengan kelembapan sedang dan suhu relatif hangat. Populasi dapat meningkat pesat apabila tersedia inang alternatif seperti ubi kayu, alpukat, dan kopi di sekitar pertanaman kakao, sehingga menjadi sumber infestasi berkelanjutan.

Gejala awal serangan kutu putih ditandai dengan adanya koloni berwarna putih seperti kapas pada permukaan buah, daun, dan batang muda. Hama ini menusuk jaringan epidermis tanaman dan menghisap cairan sel, sehingga mengganggu proses fisiologis tanaman. Pada buah kakao, serangan menyebabkan pertumbuhan terhambat, buah menjadi kerdil, mengering, dan sebagian mengalami gugur sebelum matang. Pada daun, terjadi perubahan warna menjadi kekuningan (klorosis) akibat terganggunya aliran nutrisi.

Selain kerusakan langsung akibat hisapan getah, Planococcus spp. menghasilkan embun madu sebagai sisa metabolisme. Embun madu ini menjadi media tumbuh jamur jelaga (sooty mold) berwarna hitam yang menutupi permukaan daun dan buah. Lapisan jamur tersebut menghambat proses fotosintesis sehingga tanaman menjadi lemah dan produktivitas menurun. Kondisi ini sering dijumpai pada kebun dengan naungan terlalu rapat dan sirkulasi udara yang kurang baik, sehingga kelembapan mikroklimat meningkat.

Serangan berat dapat menyebabkan kerontokan daun muda dan melemahnya tanaman secara keseluruhan. Dalam beberapa kasus, Planococcus sp. juga berperan sebagai vektor dalam penularan penyakit malformasi tunas dan ranting pada tanaman kakao. Hal ini memperparah tingkat kerusakan karena selain kehilangan hasil, tanaman juga mengalami gangguan pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, keberadaan kutu putih perlu diwaspadai sejak dini melalui pengamatan rutin di lapangan.

Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana yang terbukti efektif menekan populasi kutu putih. Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan suspensi spora pada bagian tanaman yang terserang, terutama pada koloni nimfa dan imago. Jamur ini akan menginfeksi tubuh serangga, menyebabkan kematian secara bertahap, dan relatif aman terhadap musuh alami serta lingkungan. Selain itu, konservasi musuh alami seperti kumbang predator dan parasitoid juga perlu didorong dengan mengurangi penggunaan insektisida sintetis secara berlebihan.

Pengendalian secara kultur teknis meliputi pengaturan naungan agar tidak terlalu rapat sehingga kelembapan kebun dapat ditekan dan kondisi tidak menguntungkan bagi perkembangan kutu putih. Sanitasi kebun dengan memangkas bagian tanaman yang terserang berat serta membersihkan gulma inang alternatif juga sangat dianjurkan. Penggunaan pestisida nabati seperti ekstrak umbi bawang putih atau ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) dapat dilakukan sebagai alternatif pengendalian ramah lingkungan. Aplikasi dilakukan secara berkala terutama pada awal munculnya koloni hama.

Keberadaan Planococcus spp. pada tanaman kakao perlu mendapat perhatian serius karena potensi kerusakannya cukup besar dan dapat menurunkan produksi secara signifikan. Diharapkan petani mampu melakukan pengamatan rutin, menerapkan pengendalian secara terpadu melalui pendekatan hayati, kultur teknis, dan pestisida nabati secara tepat dan berimbang. Dengan penerapan strategi pengendalian yang sesuai anjuran POPT, populasi kutu putih dapat ditekan sejak dini sehingga tanaman kakao tetap tumbuh sehat, produktivitas terjaga, dan risiko kehilangan hasil dapat diminimalkan.        

 

Daftar Pustaka:

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2020). Pedoman Teknis Pengendalian OPT Kakao. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Suryanto, A., & Nurindah. (2016). Peranan musuh alami dalam pengendalian hama kutu putih pada tanaman perkebunan. Jurnal Entomologi Indonesia, 13(1), 1–12.

Rahardjo, P., & Sudarsono. (2010). Pengaruh ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) terhadap populasi kutu putih pada tanaman perkebunan. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 16(1), 28–35.