Oleh : I Gede Sila Adnyana, S.P.
(
POPT Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukasada )
Tanaman
kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam meningkatkan
pendapatan petani. Namun, produktivitas kakao sering mengalami penurunan akibat
gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), salah satunya adalah kutu putih
dari genus Planococcus, terutama Planococcus minor dan Planococcus citri. Hama
ini bersifat polifag, memiliki kemampuan berkembang cepat, dan dapat
menyebabkan kerusakan serius pada daun, batang, serta buah kakao. Serangan yang
tidak dikendalikan dengan baik dapat menurunkan hasil hingga mencapai 50% serta
memicu munculnya penyakit sekunder akibat embun madu yang dihasilkannya.
Secara
morfologi, kutu putih Planococcus spp. memiliki tubuh lunak berbentuk oval
dengan ukuran relatif kecil, berkisar antara 2–4 mm. Seluruh permukaan tubuhnya
tertutup lapisan lilin berwarna putih menyerupai kapas, yang berfungsi sebagai
pelindung dari lingkungan dan semprotan pestisida. Pada bagian tepi tubuh
terdapat filamen lilin yang tampak seperti benang halus. Imago betina tidak
bersayap dan bergerak lambat, sedangkan jantan memiliki sepasang sayap dan
berumur sangat singkat. Telur diletakkan dalam kantong telur (ovisak) yang juga
tertutup lapisan lilin putih dan biasanya ditemukan pada celah buah, ketiak
daun, serta bagian batang yang terlindung.
Siklus
hidup Planococcus spp. dimulai dari telur, nimfa instar I, II, dan III,
kemudian berkembang menjadi imago. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung,
satu siklus hidup dapat berlangsung sekitar 25–40 hari. Nimfa yang baru menetas
akan segera mencari jaringan tanaman untuk menghisap cairan sel.
Perkembangbiakan berlangsung cepat terutama pada musim kemarau dengan
kelembapan sedang dan suhu relatif hangat. Populasi dapat meningkat pesat
apabila tersedia inang alternatif seperti ubi kayu, alpukat, dan kopi di
sekitar pertanaman kakao, sehingga menjadi sumber infestasi berkelanjutan.
Gejala
awal serangan kutu putih ditandai dengan adanya koloni berwarna putih seperti
kapas pada permukaan buah, daun, dan batang muda. Hama ini menusuk jaringan
epidermis tanaman dan menghisap cairan sel, sehingga mengganggu proses
fisiologis tanaman. Pada buah kakao, serangan menyebabkan pertumbuhan
terhambat, buah menjadi kerdil, mengering, dan sebagian mengalami gugur sebelum
matang. Pada daun, terjadi perubahan warna menjadi kekuningan (klorosis) akibat
terganggunya aliran nutrisi.
Selain
kerusakan langsung akibat hisapan getah, Planococcus spp. menghasilkan embun
madu sebagai sisa metabolisme. Embun madu ini menjadi media tumbuh jamur jelaga
(sooty mold) berwarna hitam yang menutupi permukaan daun dan buah. Lapisan
jamur tersebut menghambat proses fotosintesis sehingga tanaman menjadi lemah
dan produktivitas menurun. Kondisi ini sering dijumpai pada kebun dengan
naungan terlalu rapat dan sirkulasi udara yang kurang baik, sehingga kelembapan
mikroklimat meningkat.
Serangan
berat dapat menyebabkan kerontokan daun muda dan melemahnya tanaman secara
keseluruhan. Dalam beberapa kasus, Planococcus sp. juga berperan sebagai vektor
dalam penularan penyakit malformasi tunas dan ranting pada tanaman kakao. Hal
ini memperparah tingkat kerusakan karena selain kehilangan hasil, tanaman juga
mengalami gangguan pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, keberadaan kutu
putih perlu diwaspadai sejak dini melalui pengamatan rutin di lapangan.
Pengendalian
hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan jamur entomopatogen seperti
Beauveria bassiana yang terbukti efektif menekan populasi kutu putih. Aplikasi
dilakukan dengan cara penyemprotan suspensi spora pada bagian tanaman yang
terserang, terutama pada koloni nimfa dan imago. Jamur ini akan menginfeksi
tubuh serangga, menyebabkan kematian secara bertahap, dan relatif aman terhadap
musuh alami serta lingkungan. Selain itu, konservasi musuh alami seperti
kumbang predator dan parasitoid juga perlu didorong dengan mengurangi
penggunaan insektisida sintetis secara berlebihan.
Pengendalian
secara kultur teknis meliputi pengaturan naungan agar tidak terlalu rapat
sehingga kelembapan kebun dapat ditekan dan kondisi tidak menguntungkan bagi
perkembangan kutu putih. Sanitasi kebun dengan memangkas bagian tanaman yang
terserang berat serta membersihkan gulma inang alternatif juga sangat
dianjurkan. Penggunaan pestisida nabati seperti ekstrak umbi bawang putih atau ekstrak
daun mimba (Azadirachta indica) dapat dilakukan sebagai alternatif pengendalian
ramah lingkungan. Aplikasi dilakukan secara berkala terutama pada awal
munculnya koloni hama.
Keberadaan
Planococcus spp. pada tanaman kakao perlu mendapat perhatian serius karena
potensi kerusakannya cukup besar dan dapat menurunkan produksi secara
signifikan. Diharapkan petani mampu melakukan pengamatan rutin, menerapkan
pengendalian secara terpadu melalui pendekatan hayati, kultur teknis, dan
pestisida nabati secara tepat dan berimbang. Dengan penerapan strategi
pengendalian yang sesuai anjuran POPT, populasi kutu putih dapat ditekan sejak
dini sehingga tanaman kakao tetap tumbuh sehat, produktivitas terjaga, dan
risiko kehilangan hasil dapat diminimalkan.
Daftar Pustaka:
Direktorat Jenderal Perkebunan.
(2020). Pedoman Teknis Pengendalian OPT Kakao. Jakarta: Kementerian Pertanian
Republik Indonesia.
Suryanto, A., & Nurindah.
(2016). Peranan musuh alami dalam pengendalian hama kutu putih pada tanaman
perkebunan. Jurnal Entomologi Indonesia, 13(1), 1–12.
Rahardjo, P., & Sudarsono.
(2010). Pengaruh ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) terhadap populasi kutu
putih pada tanaman perkebunan. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 16(1),
28–35.