Oleh: I Wayan
Rusman, S.P.
Pengendali
Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama
Balai Penyuluhan
Pertanian Kecamatan Kubutambahan
Penggerek batang padi (stem borer),
terutama Scirpophaga incertulas atau penggerek batang padi kuning,
merupakan salah satu hama utama yang meresahkan petani padi di Bali, termasuk
Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Pada Musim Tanam (MT) kedua tahun
2025, serangan tercatat terjadi di sejumlah wilayah subak seperti Subak Uma
Desa, Subak Tambahan, Poktan Abangan, Subak Babakan, dan Tukad Dalem, dengan
Subak Uma Desa menjadi yang paling terdampak.
Serangan awal ditandai dengan plosor menguning dan tanaman mudah dicabut akibat rongga di dalam batang yang digerek larva. Kondisi ini tidak hanya mengancam produktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng melalui petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Desa Kubutambahan merekomendasikan tindakan pengendalian sebagai berikut:
1. Pengendalian Secara Mekanis
Tindakan mekanis dilakukan dengan memungut kelompok telur penggerek batang yang biasanya diletakkan di bagian bawah daun padi. Cara ini sederhana, murah, dan ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu bahan kimia. Selain itu, pemungutan telur dapat secara langsung memutus siklus hidup hama sebelum menetas menjadi larva perusak batang. Kegiatan ini paling efektif dilakukan pada fase vegetatif ketika populasi telur masih terkonsentrasi (Resiani dkk., 2014). Tantangannya, metode ini membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak sehingga keberhasilan sangat ditentukan oleh partisipasi petani dalam subak atau kelompok tani.
2. Pengairan Secara Macak-Macak
Pengaturan air dengan sistem macak-macak
(intermittent irrigation) diterapkan untuk menekan perkembangan larva
penggerek. Sistem ini berarti air masuk dan keluar sawah secara berkala, tidak
digenangi terus-menerus. Selain menghambat siklus hidup hama, metode ini juga
menekan kelembaban berlebih yang dapat memicu penyakit tanaman akibat kondisi
anaerob.
Pada kasus di Subak Uma Desa, kondisi sawah diperparah oleh pH tanah yang
cenderung asam. Melalui pengaturan pengairan, pergerakan air membantu
menetralkan keasaman tanah, memperbaiki kondisi pertumbuhan tanaman, sekaligus
mengurangi kerentanan padi terhadap serangan hama (Suarsana dkk., 2019).
3. Penggunaan Insektisida Kimia
Karena serangan telah melewati ambang
ekonomi, pengendalian kimia menjadi langkah yang ditempuh dengan insektisida
berbahan aktif Klorantraniliprol (Chlorantraniliprole) + Tiametoksam
(Thiamethoxam). Klorantraniliprol efektif mengendalikan larva penggerek batang
dengan cara menyerang sistem otot serangga, sehingga menyebabkan kelumpuhan dan
kematian. Sementara itu, tiametoksam merupakan insektisida sistemik dari
golongan neonikotinoid yang bekerja pada sistem saraf pusat serangga,
memberikan efek cepat terhadap populasi hama (Kumar et al., 2023).
Kombinasi kedua bahan aktif ini memberikan efek sinergis, yakni efektif
terhadap larva di dalam batang maupun populasi serangga di bagian luar tanaman.
Namun, penggunaannya tetap harus mengikuti prinsip tepat dosis, tepat waktu,
dan tepat sasaran agar tidak menimbulkan resistensi hama maupun membahayakan
organisme non-target.
4. Aplikasi Pestisida Biologi
BPTPHBun Provinsi Bali sebagai respon
atas adanya laporan serangan penggerek batang padi memberikan bantuan pestisida
hayati berupa produk yang mengandung bakteri Bacillus thuringiensis
(Bt). Mikroba ini menghasilkan toksin spesifik yang hanya menyerang serangga
golongan Lepidoptera, termasuk larva penggerek batang padi, tanpa mengganggu
organisme non-target seperti ikan, burung, atau serangga penyerbuk. Aplikasi pestisida
ini menjadi langkah penting dalam pengendalian berkelanjutan, karena membantu
memulihkan keseimbangan ekosistem sawah setelah penggunaan insektisida kimia.
Selain itu, penerapan pestisida hayati juga berperan dalam mengurangi ketergantungan
petani terhadap insektisida sintetis serta mendukung penerapan PHT (Babendreier
dkk., 2022).
Melalui penerapan pengendalian secara
mekanis, pengaturan air macak-macak, penggunaan insektisida berbahan
aktif klorantraniliprol + tiametoksam, serta aplikasi pestisida mikrobial
BT-Plus, serangan penggerek batang padi di Kecamatan Kubutambahan berhasil
ditekan sehingga tidak berujung pada gagal panen. Beberapa subak terdampak
telah memasuki fase panen, dan hasil evaluasi melalui pengambilan ubinan pada
petakan dengan intensitas serangan yang paling tinggi di Subak Uma Desa
menunjukkan hasil perhitungan produksi sebesar 56,56 kw/ha GKP (Gabah Kering
Panen). Walaupun hasil tersebut menurun dibandingkan kondisi normal, strategi
pengendalian yang diterapkan terbukti mampu menyelamatkan hasil panen sekaligus
menjaga keberlanjutan produksi padi di wilayah Desa Kubutambahan.
Sumber Referensi:
Babendreier, D., et al. (2022).
Combining Augmentative and Conservation Biological Control: A Case Study in
Rice. Agronomy, 12(12), 2958. https://doi.org/10.3390/agronomy12122958
Kumar, A., et al. (2023). Integrated
Management of Rice Yellow Stem Borer (Scirpophaga incertulas) in Paddy
Ecosystem. Journal of Entomology and Zoology Studies, 11(4), 112–118.
Resiani, N. M., Wirawan, I. G. P., &
Aryana, I. G. P. (2014). Keragaman Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi di
Bali. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information
Technology, 4(5), 424–428.
Suarsana, I. N., Suartini, N. N., &
Puspawati, N. N. (2019). Serangan Hama Penggerek Batang Padi pada Berbagai
Varietas di Bali. Agrotrop: Journal on Agriculture Science, 9(1), 55–64.