(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Lawan Penggerek Batang Padi dengan Solusi Cerdas, Bukan Sekadar Pestisida

Admin distan | 27 Agustus 2025 | 21 kali


Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama

Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kubutambahan

 

Penggerek batang padi (stem borer), terutama Scirpophaga incertulas atau penggerek batang padi kuning, merupakan salah satu hama utama yang meresahkan petani padi di Bali, termasuk Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Pada Musim Tanam (MT) kedua tahun 2025, serangan tercatat terjadi di sejumlah wilayah subak seperti Subak Uma Desa, Subak Tambahan, Poktan Abangan, Subak Babakan, dan Tukad Dalem, dengan Subak Uma Desa menjadi yang paling terdampak.

Serangan awal ditandai dengan plosor menguning dan tanaman mudah dicabut akibat rongga di dalam batang yang digerek larva. Kondisi ini tidak hanya mengancam produktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng melalui petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Desa Kubutambahan merekomendasikan tindakan pengendalian sebagai berikut:



1.    Pengendalian Secara Mekanis

Tindakan mekanis dilakukan dengan memungut kelompok telur penggerek batang yang biasanya diletakkan di bagian bawah daun padi. Cara ini sederhana, murah, dan ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu bahan kimia. Selain itu, pemungutan telur dapat secara langsung memutus siklus hidup hama sebelum menetas menjadi larva perusak batang. Kegiatan ini paling efektif dilakukan pada fase vegetatif ketika populasi telur masih terkonsentrasi (Resiani dkk., 2014). Tantangannya, metode ini membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak sehingga keberhasilan sangat ditentukan oleh partisipasi petani dalam subak atau kelompok tani.



2.    Pengairan Secara Macak-Macak

Pengaturan air dengan sistem macak-macak (intermittent irrigation) diterapkan untuk menekan perkembangan larva penggerek. Sistem ini berarti air masuk dan keluar sawah secara berkala, tidak digenangi terus-menerus. Selain menghambat siklus hidup hama, metode ini juga menekan kelembaban berlebih yang dapat memicu penyakit tanaman akibat kondisi anaerob.
Pada kasus di Subak Uma Desa, kondisi sawah diperparah oleh pH tanah yang cenderung asam. Melalui pengaturan pengairan, pergerakan air membantu menetralkan keasaman tanah, memperbaiki kondisi pertumbuhan tanaman, sekaligus mengurangi kerentanan padi terhadap serangan hama (Suarsana dkk., 2019).



3.    Penggunaan Insektisida Kimia

Karena serangan telah melewati ambang ekonomi, pengendalian kimia menjadi langkah yang ditempuh dengan insektisida berbahan aktif Klorantraniliprol (Chlorantraniliprole) + Tiametoksam (Thiamethoxam). Klorantraniliprol efektif mengendalikan larva penggerek batang dengan cara menyerang sistem otot serangga, sehingga menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Sementara itu, tiametoksam merupakan insektisida sistemik dari golongan neonikotinoid yang bekerja pada sistem saraf pusat serangga, memberikan efek cepat terhadap populasi hama (Kumar et al., 2023).
Kombinasi kedua bahan aktif ini memberikan efek sinergis, yakni efektif terhadap larva di dalam batang maupun populasi serangga di bagian luar tanaman. Namun, penggunaannya tetap harus mengikuti prinsip tepat dosis, tepat waktu, dan tepat sasaran agar tidak menimbulkan resistensi hama maupun membahayakan organisme non-target.



4.    Aplikasi Pestisida Biologi

BPTPHBun Provinsi Bali sebagai respon atas adanya laporan serangan penggerek batang padi memberikan bantuan pestisida hayati berupa produk yang mengandung bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Mikroba ini menghasilkan toksin spesifik yang hanya menyerang serangga golongan Lepidoptera, termasuk larva penggerek batang padi, tanpa mengganggu organisme non-target seperti ikan, burung, atau serangga penyerbuk. Aplikasi pestisida ini menjadi langkah penting dalam pengendalian berkelanjutan, karena membantu memulihkan keseimbangan ekosistem sawah setelah penggunaan insektisida kimia. Selain itu, penerapan pestisida hayati juga berperan dalam mengurangi ketergantungan petani terhadap insektisida sintetis serta mendukung penerapan PHT (Babendreier dkk., 2022).

Melalui penerapan pengendalian secara mekanis, pengaturan air macak-macak, penggunaan insektisida berbahan aktif klorantraniliprol + tiametoksam, serta aplikasi pestisida mikrobial BT-Plus, serangan penggerek batang padi di Kecamatan Kubutambahan berhasil ditekan sehingga tidak berujung pada gagal panen. Beberapa subak terdampak telah memasuki fase panen, dan hasil evaluasi melalui pengambilan ubinan pada petakan dengan intensitas serangan yang paling tinggi di Subak Uma Desa menunjukkan hasil perhitungan produksi sebesar 56,56 kw/ha GKP (Gabah Kering Panen). Walaupun hasil tersebut menurun dibandingkan kondisi normal, strategi pengendalian yang diterapkan terbukti mampu menyelamatkan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan produksi padi di wilayah Desa Kubutambahan.

 

Sumber Referensi:

 

Babendreier, D., et al. (2022). Combining Augmentative and Conservation Biological Control: A Case Study in Rice. Agronomy, 12(12), 2958. https://doi.org/10.3390/agronomy12122958

 

Kumar, A., et al. (2023). Integrated Management of Rice Yellow Stem Borer (Scirpophaga incertulas) in Paddy Ecosystem. Journal of Entomology and Zoology Studies, 11(4), 112–118.

 

Resiani, N. M., Wirawan, I. G. P., & Aryana, I. G. P. (2014). Keragaman Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi di Bali. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 4(5), 424–428.

 

Suarsana, I. N., Suartini, N. N., & Puspawati, N. N. (2019). Serangan Hama Penggerek Batang Padi pada Berbagai Varietas di Bali. Agrotrop: Journal on Agriculture Science, 9(1), 55–64.