(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

DAMPAK DAN POTENSI PEMANFATAAN GULMA KAYU APU (Pistia stratiotes L.) PADA PERTANAMAN PADI SAWAH

Admin distan | 19 Januari 2026 | 9 kali

 

Oleh:

Pande Made Giopany, S.P.

(POPT – Ahli Pertama BPP Kecamatan Sukasada)

 

Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang tumbuh di lahan budidaya dalam waktu tertentu yang tidak dikehendaki oleh manusia. Gulma yang tumbuh di antara tanaman sangat beragam jenis dan dominasinya. Jenis-jenis gulma yang memiliki dominasi yang tinggi akan sangat merugikan dan menurunkan hasil tanaman. Faktor yang mempengaruhi keragaman gulma antara lain cahaya, unsur hara, pengolahan tanah, cara budidaya tanaman, jarak tanaman atau kerapatan yang digunakan, serta umur tanaman. Pada pertanaman padi sawah, keberadaan gulma air menjadi perhatian khusus karena kondisi lahan yang tergenang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan air. Salah satu gulma air yang umum dijumpai adalah kayu apu (Pistia stratiotes L.), yang tumbuh mengapung di permukaan air dan memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat.

 

Karakteristik Kayu Apu

Kayu apu yang juga dikenal dengan nama populernya shellflower merupakan tumbuhan air yang umumnya tumbuh di daerah tropis. Bentuk kayu apu mirip dengan kubis berukuran kecil yang mengapung di permukaan, memiliki tinggi sekitar 5-10cm, daun berwarna hijau terang dengan tekstur tebal berdaging serta berambut halus menyerupai beludru. Akar kayu apu menggantung di dalam air dengan batang yang pendek, tebal, tegak lurus dan tunas menjalar dan berfungsi menyerap unsur hara terlarut. Tanaman ini berkembang biak dengan stolon dan dapat tumbuh dengan cepat, sehingga dalam waktu singkat dapat menutupi permukaan suatu perairan yang luas. Tanaman kayu apu termasuk gulma air kosmopolit yang mudah beradaptasi pada perairan dangkal, termasuk sawah, saluran irigasi, dan rawa, sehingga sering mendominasi ekosistem perairan pertanian.

 

Dampak Keberadaan Kayu Apu pada Tanaman Padi

Keberadaan kayu apu di pertanaman padi dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan gulma yang menutupi permukaan air dapat menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam kanopi padi dan permukaan tanah sawah. Kondisi ini berpotensi menurunkan laju fotosintesis tanaman padi serta mengganggu proses pertumbuhan awal, terutama pada fase vegetatif. Selain itu, lapisan gulma yang tebal dapat menghambat pergerakan air dan distribusi pupuk di dalam petakan sawah.

Selain persaingan cahaya, kayu apu juga berkompetisi dengan tanaman padi dalam penyerapan unsur hara, khususnya nitrogen dan fosfor yang terlarut dalam air. Beberapa penelitian, vegetasi gulma padi menunjukkan bahwa keberadaan gulma air dengan biomassa tinggi dapat menurunkan ketersediaan hara bagi tanaman utama dan berdampak pada penurunan hasil gabah. Keberadaan kayu apu juga dapat memengaruhi kondisi mikroekosistem sawah. Pertumbuhan yang berlebihan dapat menurunkan kadar oksigen terlarut di air dan memengaruhi organisme akuatik di lahan sawah. Namun, dalam kepadatan rendah, gulma ini juga dapat berperan sebagai penyangga lingkungan dengan mengurangi erosi permukaan air dan menekan pertumbuhan alga tertentu. Oleh karena itu, dampak ekologis kayu apu sangat dipengaruhi oleh tingkat kerapatan dan pengelolaannya.

 

Potensi Pemanfaatan Kayu apu

Meskipun sering dikategorikan sebagai gulma, kayu apu juga memiliki potensi manfaat apabila dikelola secara tepat. Biomassa kayu apu diketahui mengandung unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik atau kompos. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompos dari gulma air, termasuk kayu apu, dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan memperbaiki sifat fisik serta kimia tanah sawah. Selain sebagai sumber bahan organik, kayu apu juga dikenal memiliki fungsi ekologis dalam fitoremediasi. Kayu apu sebagai tumbuhan air memiliki potensi dalam menurunkan pencemar air limbah yang memiliki kadar organik tinggi. Tanaman ini mampu menyerap logam berat dan kelebihan nutrien dari air, sehingga sering dimanfaatkan dalam pengolahan limbah cair dan perbaikan kualitas air.  Potensi ini menunjukkan bahwa kayu apu tidak selalu bersifat merugikan, melainkan dapat memberikan manfaat apabila ditempatkan pada ekosistem yang sesuai dan tidak mengganggu tanaman budidaya.

 

  

Sumber Pustaka

Cook CD (1996) Aquatic and Wetland Plants of India: A reference book and identification manual for the vascular plants found in permanent or seasonal fresh water in the subcontinent of India south of the Himalayas. Oxford University Press, Oxford, 385 pp.

Tustiyani, I., Nurjanah, D. R., Maesyaroh, S. S., & Mutakin, J. (2019). Identifikasi keanekaragaman dan dominansi gulma pada lahan pertanaman jeruk (Citrus sp.). Kultivasi, 18(1), 779–783. https://doi.org/10.24198/kultivasi.v18i1.18933.

Utami, S., Murningsih, M., & Muhammad, F. (2020). Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Tumbuhan Gulma Pada Perkebunan Kopi di Hutan Wisata Nglimut Kendal Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(2), 411–416. https://doi.org/10.14710/jil.18.2.411-416.