Oleh:
Pande Made Giopany, S.P.
(POPT – Ahli Pertama BPP
Kecamatan Sukasada)
Gulma
merupakan tumbuhan pengganggu yang tumbuh di lahan budidaya dalam waktu
tertentu yang tidak dikehendaki oleh manusia. Gulma yang tumbuh di antara
tanaman sangat beragam jenis dan dominasinya. Jenis-jenis gulma yang memiliki
dominasi yang tinggi akan sangat merugikan dan menurunkan hasil tanaman. Faktor
yang mempengaruhi keragaman gulma antara lain cahaya, unsur hara, pengolahan
tanah, cara budidaya tanaman, jarak tanaman atau kerapatan yang digunakan, serta
umur tanaman. Pada pertanaman padi sawah, keberadaan gulma air menjadi
perhatian khusus karena kondisi lahan yang tergenang mendukung pertumbuhan
berbagai jenis tumbuhan air. Salah satu gulma air yang umum dijumpai adalah
kayu apu (Pistia stratiotes L.), yang tumbuh mengapung di permukaan air
dan memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat.
Karakteristik Kayu Apu
Kayu
apu yang juga dikenal dengan nama populernya shellflower merupakan
tumbuhan air yang umumnya tumbuh di daerah tropis. Bentuk kayu apu mirip dengan
kubis berukuran kecil yang mengapung di permukaan, memiliki tinggi sekitar
5-10cm, daun berwarna hijau terang dengan tekstur tebal berdaging serta
berambut halus menyerupai beludru. Akar kayu apu menggantung di dalam air
dengan batang yang pendek, tebal, tegak lurus dan tunas menjalar dan berfungsi
menyerap unsur hara terlarut. Tanaman ini berkembang biak dengan stolon dan
dapat tumbuh dengan cepat, sehingga dalam waktu singkat dapat menutupi
permukaan suatu perairan yang luas. Tanaman kayu apu termasuk gulma air
kosmopolit yang mudah beradaptasi pada perairan dangkal, termasuk sawah,
saluran irigasi, dan rawa, sehingga sering mendominasi ekosistem perairan
pertanian.
Dampak Keberadaan Kayu Apu pada Tanaman Padi
Keberadaan
kayu apu di pertanaman padi dapat menimbulkan dampak negatif terhadap
pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan gulma yang menutupi permukaan air dapat
menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam kanopi padi dan permukaan tanah
sawah. Kondisi ini berpotensi menurunkan laju fotosintesis tanaman padi serta
mengganggu proses pertumbuhan awal, terutama pada fase vegetatif. Selain itu,
lapisan gulma yang tebal dapat menghambat pergerakan air dan distribusi pupuk
di dalam petakan sawah.
Selain
persaingan cahaya, kayu apu juga berkompetisi dengan tanaman padi dalam
penyerapan unsur hara, khususnya nitrogen dan fosfor yang terlarut dalam air.
Beberapa penelitian, vegetasi gulma padi menunjukkan bahwa keberadaan gulma air
dengan biomassa tinggi dapat menurunkan ketersediaan hara bagi tanaman utama
dan berdampak pada penurunan hasil gabah. Keberadaan kayu apu juga dapat
memengaruhi kondisi mikroekosistem sawah. Pertumbuhan yang berlebihan dapat
menurunkan kadar oksigen terlarut di air dan memengaruhi organisme akuatik di
lahan sawah. Namun, dalam kepadatan rendah, gulma ini juga dapat berperan
sebagai penyangga lingkungan dengan mengurangi erosi permukaan air dan menekan
pertumbuhan alga tertentu. Oleh karena itu, dampak ekologis kayu apu sangat
dipengaruhi oleh tingkat kerapatan dan pengelolaannya.
Potensi Pemanfaatan Kayu apu
Meskipun
sering dikategorikan sebagai gulma, kayu apu juga memiliki potensi manfaat
apabila dikelola secara tepat. Biomassa kayu apu diketahui mengandung unsur
hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pupuk organik atau kompos. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
kompos dari gulma air, termasuk kayu apu, dapat meningkatkan kandungan bahan
organik tanah dan memperbaiki sifat fisik serta kimia tanah sawah. Selain
sebagai sumber bahan organik, kayu apu juga dikenal memiliki fungsi ekologis
dalam fitoremediasi. Kayu apu sebagai tumbuhan air memiliki potensi dalam
menurunkan pencemar air limbah yang memiliki kadar organik tinggi. Tanaman ini
mampu menyerap logam berat dan kelebihan nutrien dari air, sehingga sering
dimanfaatkan dalam pengolahan limbah cair dan perbaikan kualitas air. Potensi ini menunjukkan bahwa kayu apu tidak
selalu bersifat merugikan, melainkan dapat memberikan manfaat apabila
ditempatkan pada ekosistem yang sesuai dan tidak mengganggu tanaman budidaya.
Sumber Pustaka
Cook CD (1996) Aquatic and Wetland
Plants of India: A reference book and identification manual for the vascular
plants found in permanent or seasonal fresh water in the subcontinent of India
south of the Himalayas. Oxford University Press, Oxford, 385 pp.
Tustiyani, I., Nurjanah, D. R.,
Maesyaroh, S. S., & Mutakin, J. (2019). Identifikasi keanekaragaman dan
dominansi gulma pada lahan pertanaman jeruk (Citrus sp.). Kultivasi, 18(1),
779–783. https://doi.org/10.24198/kultivasi.v18i1.18933.
Utami, S., Murningsih, M., &
Muhammad, F. (2020). Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Tumbuhan Gulma Pada
Perkebunan Kopi di Hutan Wisata Nglimut Kendal Jawa Tengah. Jurnal Ilmu
Lingkungan, 18(2), 411–416. https://doi.org/10.14710/jil.18.2.411-416.