Oleh:
Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Seririt
Pelaksanaan kegiatan pertanian tidak terhindar dari permasalahan yang disebabkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan tentunya memerlukan suatu bentuk tindakan pengendalian. Saat kini penggunaan bahan kimia atau sintetik dianggap efektif dalam mengendalikan OPT, namun penggunaannya secara terus menerus dapat memicu terjadinya resistensi sehingga pengendalian selanjutnya sulit untuk dilakukan. Permasalahan yang seperti ini dapat dicegah atau diatasi dengan menggunakan pengendalian yang tergolong bersifat lebih ramah lingkungan yaitu pengendalian secara hayati.
Pengendalian hayati merupakan suatu upaya dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan memanfaatkan organisme hidup untuk menekan kepadatan populasi atau memberi pengaruh terhadap organisme pengganggu spesifik, dan membuat kepadatannya atau kerusakan yang dibuatnya menurun tanpa menggunakan bahan kimia yang merusak lingkungan. Agens pengendalian hayati mengacu pada semua organisme, termasuk bakteri, jamur, virus dan organisme lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit dalam tahap perkembangan atau proses produksinya. Salah satu Agens Pengendali Hayati (APH) yang dapat digunakan sebagai pengendali patogen yaitu bakteri antagonis. Bakteri antagonis adalah salah satu APH yang menghasilkan suatu senyawa yang dapat digunakan untuk mengendalikan jamur maupun bakteri patogen yang menyebabkan penyakit pada tumbuhan.
Pseudomonas fluorescens merupakan salah satu agens pengendali hayati yang telah dibuktikan memiliki sifat antagonis karena kemampuannya yang mengimbas ketahanan sistemik. Bakteri ini telah dilaporkan beberapa peneliti dapat meningkatkan kandungan senyawa fenol pada tanaman. P. fluorescens adalah bakteri aerobik gram negatif yang ditemukan di tanah pertanian dan dapat beradaptasi dengan baik untuk tumbuh di rizosfer. Rhizobakteri ini mempunyai sangat banyak kegunaan sebagai agen biokontrol dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Mekanismenya dengan memanfaatkan eksudat akar, berkolonisasi dan berkembang biak di lingkungan rizosfer. P. fluorescens merupakan salah satu strain bakteri antagonis yang telah menunjukkan kemampuannya untuk mengendalikan beberapa patogen tanaman, khususnya patogen tular tanah secara in vitro, in planta, maupun in vivo. Selain itu P. fluorescens termasuk mikroba kemoorganotrof dimana mampu memperoleh energi dengan melakukan oksidasi bahan kimia dan menggunakan bahan organik sebagai sumber karbon dan energi utamanya. Bakteri ini tumbuh optimal dengan temperatur berkisar 25-32 derajat Celcius dan mampu tumbuh pada pH sekitar 4 hingga 8.
Berdasarkan penelitian Hanudin et al. (2009) bakteri P. flourescens yang diisolasi dari tempat berbeda memiliki kemampuan penghambatan yang berbeda-beda. Bakteri genus Pseudomonas menghasilkan senyawa antibiosis berupa pyoluteorin dan pyrrolnitrin yang bersifat toksik terhadap patogen. Senyawa tersebut merupakan salah satu senyawa antibiosis yang dapat merusak dinding sel, sehingga cairan yang ada di dalam dinding sel akan berkurang dan mengalami plasmolisis sehingga proses metabolisme akan terhambat. Selain itu berdasarkan penelitian Hassanein et al (2009), Pseudomonas sp. memiliki kemampuan untuk memproduksi metabolit sekunder seperti siderofor penghelat besi (Fe), amonia dan sianida. P. fluorescens merupakan salah satu bakteri bakteri yang dapat melarutkan fosfat terikat menjadi bentuk tersedia yang berguna untuk tanaman. Kemampuan bakteri ini melarutkan fosfat dengan terbentuknya zona bening. Menurut Probowati dkk. (2021), bakteri ini mempunyai sifat “Plant Growth Promoting Rhizobacteria” (PGPR), menghasilkan antibiotika 2,4- diasetilfloroglusinol (Phl atau DAPG) dan siderofor, mampu mengkoloni akar tanaman serta mengimbas ketahanan tanaman. P. fluorescens memiliki sifat antagonis terhadap patogen cendawan maupun bakteri. Beberapa contoh pemanfaatan bakteri antagonis ini yaitu mampu menekan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas sp. pada tanaman padi, mengendalikan penyakit layu Fusarium oxyporum pada gladiol, mengendalikan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum pada tanaman pisang, tomat, cabai dan kentang serta masih banyak lagi.
Daftar Pustaka :
Hanudin B, Marwoto
O. dan Gunawan S. 2009. Penapisan Beberapa Isolat Pseudomonas fluorescens,
Bacillus subtilis dan Trichoderma harzianum yang Bersifat
Antagonistik terhadap Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang.
Jurnal Agrikultura 20(3): 198-203.
Hassanein W. A.,
Awny N. M., El-Mougith A. A. dan Salah El-Dien S. H. 2009. The Antagonistic
Activities of Some Metabolites Produced by Pseudomonas aeruginosa Sha.
Journal Appl. Sci. Res. 404-414.
Hartati R.D.,
Suryaman M., dan Saepudin A. 2021. Pengaruh Pemberian Bakteri Pelarut Fosfat pada
Berbagai pH Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine
Max L . Merr). JA-Crops 1(1): 25-34.
Medical Lab Notes.
2025. Pseudomonas fluorescens: Introduction, Morphology, Pathogenicity,
Lab Diagnosis, Treatment, Prevention, and Keynotes. Diakses pada laman https://medicallabnotes.com/pseudomonas-fluorescens-introduction-morphology-pathogenicity-lab-diagnosis-treatment-prevention-and-keynotes/
Noviani, N. W. P.
dan Yuni S. R. 2022. Pengaruh Pemberian Pseudomonas fluorescens, Azospirillum
sp. dan Mikroorganisme Lokal terhadap Produktivitas dan Pertumbuhan Kedelai
pada Tanah Kapur. LenteraBio 11(3): 493-502.
Rahmadaniar, S. D.
Noor A. dan Mariana. 2023. Uji Antagonis Bacillus spp. dan Pseudomonas
Kelompok fluorescens dalam Menghambat Perkembangan Cendawan Sclerotium
rolfsii Penyebab Busuk Batang pada Tanaman Kacang tanah. Prosiding Seminar Nasional
Pertanian Pesisir (SENATASI) Universitas Bengkulu 2(1):460-474.
Susanti D. dan
Linda A. 2021. Seleksi Beberapa Isolat Pseudomonas fluorescens dalam
Kemampuannya Melarutkan Fosfat. Prosiding SEMNAS BIO Universitas Negeri Padang:
1590-1593.