Tembakau white burley pernah dicoba dibudidayakan oleh petani tembakau di Kabupaten Buleleng, akan tetapi jenis tembakau ini hanya bisa diupayakan dalam satu musim saja, banyak kendala dan hambatan dilapangan baik itu dari faktor petaninya demikian juga tehnik budidaya yang sedikit berbeda dengan tembakau virginia yang sebelumnya telah biasa di budidayakan oleh petani di buleleng. (07/01)
Secara garis besar teknik yang dilaksanakan pada proses budidaya tembakau white burley sama dengan teori yang ada. Sebagaian besar teknik budidayanya diterapkan di lapangan yang mengacu pada pengaplikasian teori yang terdapat di buku panduan yang diberikan oleh PPL Perkebunan pada saat itu. Petugas PPL Perkebunan terus melakukan pendampingan di lapangan. Namun petani yang tergabung dalam Kelompok Tani White Burley belum sepenuhnya mengaplikasikan Teknik budidaya yang tertera pada buku pedoman. Kendala di awal adalah terkait dengan ketersediaan benih. Dalam pembibitan sebagian besar petani belum membibit sendiri di lapangan akan tetapi dengan membeli bibit di luar daerah, sehingga akan menambah biaya, serta kondisi bibit yang tidak baik, sebagai akibat dari lokasi pengambilan yang jauh di Jawa Timur. Pada saat panen tidak semua petani tembakau White Burley melakukan panen tebang batang sehingga terjadi peningkatan biaya produksi dari ongkos panen
Dalam penanganan pasca panen petani masih ada yang melaksanakan pemeraman sebelum digelantang, pada hal tembakau white burley tak perlu lagi diperam karena akan menghasilkan daun tembakau dengan mutu rendah. Pada saat itu petani juga mengalami masalah dipenjualan, dimana pembeli tidak mau melakukan pembelian di Kabupaten Buleleng melainkan petani harus menjual tembakau mereka ke wilayah Jawa Timur. Dengan kondisi ini petani memerlukan tambahan biaya dengan ongkos angkut yang jauh, belum lagi ditambah grade tembakau mereka tergolong rendah. Akhirnya petani gusar banyak merugi sehingga setelahnya petani tembakau tidak ada lagi yang mengusahakan tembakau white burley.