(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

PELAYANAN INSEMINASI BUATAN PADA TERNAK SAPI

Admin distan | 15 Juli 2024 | 143 kali

Pada hari Senin tanggal 15 Juli 2024 dilaksanakan pelayanan inseminasi buatan pada ternak sapi didesa subuk kecamatan Busungbiu.

Ada beberapa titik kritis dalam pelaksanaan Inseminasi Buatan pada Sapi diantaranya adalah : (1) Ketepatan Pengamatan Birahi oleh peternak; (2) Teknik Inseminasi Buatan oleh petugas Insemnator; dan juga (3) Handling Semen Beku yang digunakan sebagai bibit.  Ketiga factor tersebut saling berkaitan satu sama lain.  

Normalnya Siklus birahi sapi umumnya sepanjang 20-21 hari, rataan lama birahi pada sapi dewasa 17,8 jam dengan kisaran 2,5-28 jam, sedangkan untuk sapi dara (usia muda) adalah 15,3 jam. Sapi potong dan sapi perah di daerah tropis memiliki rata-rata sikulus birahi lebih pendek yakni 13-15 jam dibanding subtropis. Pada umumnya sapi memperlihatkan gejala birahi pada malam dan pagi hari. Waktu pengamatan birahi yang baik adalah di pagi hari, siang atau sore hari ketika sapi beristirahat, sedangkan waktu mengawinkan yang ideal adalah saat puncak birahi, sekitar 12 jam setelah tanda birahi awal teramati. Artinya, jika di pagi hari teramati tanda birahi maka sapi dikawinkan pada sore hari, dan bila teramati birahi pada sore hari maka dikawinkan besok paginya sebelum jam 12.00.  Banyak penelitian menunjukkan  bahwa angka kebuntingan terbaik diperoleh apabila inseminasi buatan dilakukan pada waktu pertengahan estrus hingga akhir estrus. Jadi sapi yang menunjukkan estrus pagi hari dilakukan inseminasi buatan pada sore hari berikutnya dan sebaliknya, sapi yang menunjukkan estrus sore hari, dilakukan inseminasi buatan pagi hari berikutnya.  

Namun sekarang banyak dilaporkan bahwa   masa birahi sapi menjadi semakin panjang bisa sampai 2 hari sehingga jika muncul tanda birahi pagi dan dilakukan inseminasi pada sore ternyata belum pada puncak estrus.  Banyakfaktor yang disinyalir menjadi penyebab semakin panjangnya masa birahi. Salah satunya adalah rendahnya kualitas pakan yang diberikan peternak pada sapi.   Sapi dengan kadar darah tetua “Sapi Merah’ yang semakin banyak tentunya memerlukan kualitas pakan yang semakin baik agar kondisinya sama dengan asal sapi di luar negeri sana.   Kualitas pakan yang rendah akan mengganggu reproduksi sapi tersebut sehingga bisa muncul kondisi masa birahi yang semakin panjang.  Peternak yang terbiasa memelihara sapi lokal dengan kualitas pakan yang seadanya masih terus dilakukan saat sapi yang dipelihara memiliki darah “Sapi Merah” yang semakin banyak.  Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya mas birahi yang semakin banyak maka nutrisi pakan yang diberikan juga perlu diperhatikan sehingga kebutuhan induk sapi dalam memenuhi kebutuhan reproduksinya dapat terpenuhi.



 (BPP Busungbiu)