Singaraja,13 Mei 2024
Cabai merupakan produk pertanian khsusnya hortikultura, yang sangat populer sebagai salah satu pelangkap bumbu masakan dimasyarakat kita. Harga cabai dipasaran sangat mudah mengalami fluktuasi harga, terkadang dengan kenaikan harga ditingkat pasar yang sangat tinggi, sehingga hal ini berdampak pada daya beli masyarakat. Untuk mengatasi harga cabai yang melambung tinggi dipasaran, maka pengembangan kawasan budidaya tanaman cabai sekala usaha tani sangat perlu dilakukan, dalam upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi untuk menstabilkan pasokan kebutuhan pasar.
Panen cabain dilakukan ketika buah cabai sudah matang dan memiliki warna yang terang seperti merah dan orange. Panen cabai dilakukan setelah 60 sampai 90 hari setelah tanam. Cabai merupakan buah yang mudah rusak setelah dipanen oleh sebab itu, harus dilakukan penanganan pascapanen yang sesuai, hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan meningkatkan daya simpan, yang lebih lama. Dalam rangka pengembangan produk hortikultura yang bermutu dan berdaya saing dipasaran diperlukan penanganan pascapanen yang baik dan benar (good Handling Practices/GHP).
Kegiatan pascapanen produk hortikultura, merupakan salah satu kegiatan dalam usaha tani yang perlu mendapat perhatian, karena menyangkut upaya kehilangan hasil, baik dalam bobot maupn mutu dan memperpanjang kesegaran produk dan umur simpan. Tahapan kegiatan pascapanen untuk setiap jenis komoditas hortikultura, memerlukan penanganan yang berbeda sesuai karakter masing-masing produk. Penanganan pascapanen yang baik dan benar, merupakan salah satu mata rantai dalam pencapaian standar mutu produk hortikultura. Penerapan (Good Handling Practices) pada komoditas hortikultura khususnya cabai besar, merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari upaya peningkatan daya saing hortikultura, khususnya cabai besar di pasaran, baik domestik maupun Internasional. Untuk mendukung penanganan pascapanen yang baik di tingkat petani, diperlukan peningkatan pengetahuan melalui sekolah lapang Good Handling Practices cabai besar. Sekolah lapang GHP/Good Handling Practices Cabai Besar, merupakan model penerapan pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan, untuk mempercepat proses peningkatan kompetensi dalam penanganan panen, pascapanen, pengolahan pascapanen, sekaligus sebagai wahana bagi para petani untuk saling belajar dan bertukar pengalaman dengan sesama anggota, serta interaksi antar anggota dan pemandu lapang.
Bidang P3HP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Good Handling Practices Cabai Besar, di Kelompok Tani Lembu Wibuh Winangun, Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, selama 5 (lima) hari, dilaksanakan dari tanggal 13-17 Mei 2024. Sekolah Lapang merupakan praktek lapang penerapan GHP/SOP pascapanen, dalam rangka menghasilkan produk yang bermutu, sesuai dengan permintaan pasar, aman konsumsi dan dihasilkan dengan perlakuan yang ramah lingkungan. Penerapan GHP dalam kegiatan pascapanen, juga bertujuan untuk menekan kehilangan hasil, mempertahankan daya simpan dan meningkatkan mutu agar memiliki daya saing.
Tujuan
dilaksanakannya kegiatan SL-GHP adalah untuk memberikan acuan dan petunjuk bagi
petugas di lapangan, berkaitan dengan tahapan pelaksanaan kegiatan penanganan
pascapanen pada komoditas cabai besar, meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan dalam melaksanakan penerapan GHP bagi petani/pelaku usaha cabai
besar.