Arak bali adalah jenis minuman beralkohol yang banyak diupayakan oleh masyarakat di Kabupaten Buleleng. Bahan baku dari minuman arak ini adalah nira atau sering disebut tuak oleh masyarakat bali. Tuak ini kemudian dipanaskan dan uapnya, dengan proses destilasi dihasilkan arak.
Nira atau tuak sebagai bahan baku arak ini berasal dari tanaman aren atau lontar, yang diambil dari bakal bunganya dengan cara menyadapnya. Di Kabupaten Buleleng, pohon enau dan lontar banyak tumbuh dan dapat memproduksi nira dengan jumlah yang cukup bagus. Rabu (06/01)
Pohon / tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus, dan dapat tumbuh pada ketinggian mulai 9 s/d 1200 M.dpl, tanaman ini oleh masyarakat belum dibudidayakan layaknya tanaman lainnya. Tanaman aren tumbuh liar dan perbanyakan tanaman masih bersifat alamiah.
Pohon / tanaman lontar biasanya tumbuh pada lahan yang marginal dan beriklim kering, sama halnya dengan tanaman aren, oleh masyarakat belum ada yang membudidayakannya. Populasi yang ada di alam tumbuhnya dari biji – biji yang jatuh dari pohonnya.
Di Kabupaten Buleleng pengerajin arak sesuai dengan bahan baku yang dipergunakan dari hasil monitoring Kepala Bidang Perkebunan Putu Oka Sastra, ada di beberapa tempat. Arak bali berbahan baku dari nira tanaman aren banyak di temukan di Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, sedangkan untuk arak yang berbahan baku dari nira tanaman lontar banyak di ketemukan di seputaran Desa Les dan Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula dan Desa Tukad Sumaga, Desa Gerokgak , Kecamatan Gerokgak.
Produksi arak sangat dipengaruhi oleh cuaca, saat musim hujan biasanya nira pada ke dua tanaman itu cenderung berkurang serta kualitasnya rendah. Sedangkan saat memasuki musim kemarau maka nira yang keluar akan lebih banyak serta dengan kualitas yang lebih baik. Pasang surut produksi nira ini menyebabkan pasang surutnya produksi arak baik secara kualitas dan kuantitas yang dapat dihasilkan oleh pengerajin arak itu sendiri.