Kelompok Tani Sari Mekar yang beralamat di Ds Tambakan Kec.Kubutambahan Kab.Buleleng – Bali memiliki anggota sebanyak 28 orang dengan komoditas utama jeruk dan teranak sapi. Luas tanamnan jeruk di kelompok Sari Mekar tersebut seluas 11,17 ha.sedangkan luas tanaman jeruk di desa Tambakan secara keseluruhan adalah 82,7 ha. Pada Tahun 2019 Kelompok ini mendapat alokasi anggaran SL-GAP Jeruk yang bersumber dari dana APBD II. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan proses Identifikasi dan penetapan Calon petani/calon lokasi (CPCL) yang dilakukan oleh PPL wilbin Tambakan dan didampingi oleh Koordinator BPP Kec.Kubutambahan serta dari Tim Teknis Dinas Pertanian Kab.Buleleng Pelaksanaan SL-GAP jeruk dimulai pada tgl 07 Agustus 2019 dan nanti berakhir pada 09 Oktober 2019 dengan 10 (sepuluh) kali tatap muka/pertemuan dengan interval 1 (satu) kali seminggu diikuti oleh 20 orang petani terdiri dari 3 orang pengurus kelompok dan 17 orang anggota. Dari 20 anggota tersebuat dibagi menjadi 4 kelompok @ 5 orang. Sebelum proses pembelajaran dimulai dilaksanakan pre test terlebih dahulu. Dari hasil pre test tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan peserta terhadap teknologi budidaya jeruk baru mencapai 54,4% atau masih rendah .Mengacu pada hasil pre test tersebut maka Materi yang perlu diberikan meliputi :
Materi disampaikan setiap pertemuan difokuskan pada penerapan setiap tahapan kegiatan.Adapun materi SLGAP jeruk dibagi dalam 3 (tiga) jenis yaitu :
Dengan demikian tujuan dari pelaksanaan SLGAP jeruk di KTT Sari Mekar Desa Tambakan adalah untuk meningkatkan pengetahuan,sikap dan ketrampilan petani yang pada gilirannya dapat meningkatkan produksi jeruk dan pendapatan petani melalui penerapan GAP.
Ada yang paling mononjol dalam setiap diskusi/curah pendapat pada setiap tahapan SLGAP di kelompok ini yaitu peserta selalu aktif bertanya tentang BUJANG SETA, sehingga setiap tahapan kegiatan peserta selalu bertanya tentang ‘BUJANG SETA,. Apakah BUJANG SETA itu ?
BUJANG SETA adalah teknologi membuahkan jeruk secara berjenjang sehingga dapat berbuah sepanjang tahun atau pembuahan jeruk diluar musim dengan buah yang berkualitas sehingga petani mendapat harga yang menguntungkan.Sedangkan SITARA adalah teknologi Sistem Jarak Tanam Rapat sehingga populasi tananaman perhektar dapat meningkat menjadi 1.600 pohon/ha dengan populasi per ha meningkat diharapkan produksi juga meningkat. Namun perlu diperhatikan kecukupan kebutuhan tanaman akan Sinarmatahari dan Unsur hara.Semasih kebutuhan sinar matahari dan unsure hara cukup maka jarak tanam masih bisa diatur. Untuk itu yang perlu diperhatikan pada teknologi BUJANG SETA adalah meliputi :
Cabang cabang yang harus diperhatikan untuk dipangkas adalah :Ranting bekas tangkai buah,cabang/ranting yang sakit,cabang yang tumbuhnya dominan,cabang/ranting yang tumbuhnya bersebrangan kedalam tajuk serta tunas tunas yang tumbuh di pangkal batang.
Tujuan dari pemangkasan adalah : mengatur sirkulasi 02 dan C02. , menjaga kelembaban dan mengatur agar sinar matahari dapat masuk kedalam zone tanaman sehingga OPT tidak mudah untuk bersarang.
Hama yang dominan menyerang tanaman jeruk adalah : Aphis,Trip,kutu dompolan dan kutu sisik. Hama ini menyebabkan turunan penyakit burik kusam dan embun jelaga. Untuk itu perlu pengendalian secara berkala. Penggunaan Insektisida Hayati seperti dari ekstrat Daun Mimba dan daun Mindi sangat dianjurkan,namun jika dilokasi bahan tersebut tidak ada masih dimungkinkan dengan menggunakan insektisida maupun fungisida kimia dengan catatan dosis harus benar benar diperhatikan.Prinsip prinsip PHT atau Pengendalian Hama Terpadu tetap harus menjadi acuan.
Demikian semoga SLGAP Jeruk di KTT Sari Mekar Desa Tambakan dapat mendongkrak produksi dan mutu serta kesinambungan produksi melalui penerapan prinsip prinsip GAP...
(Oleh :I Made Carma ..>
(Koordinator Petugas Kecamatan BPP Kubutambahan)
Download disini