(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Strategi Pengendalian Ulat Grayak Spodoptera litura

Admin distan | 28 Oktober 2024 | 1927 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama
Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kubutambahan


Umumnya pengendalian ulat grayak yang dilakukan oleh petani masih mengutamakan penggunaan pestisida kimia sintetis. Disamping penggunaannya yang bermanfaat untuk pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) pestisida kimia sintetis juga memiliki dampak negatif bagi lingkungan diantaranya adalah pencemaran lingkungan (tanah, air), membunuh musuh alami, terjadi resistensi hama, penumpukan residu pestisida pada produk, dan keracunan petani yang menggunakannya. Mempertimbangkan dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetik tersebut, maka penting untuk memilih teknologi pengendalian lain.

Pengendalian yang ramah lingkungan dan pengelolaan hama terpadu dapat menjadi alternatif dalam bidang pertanian. Konsep pengelolaan hama terpadu sangat penting dilaksanakan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian menjadi satu paket teknologi yang dapat diterapkan mulai dari tahap penyiapan lahan. Strategi pengendalian terpadu dari ulat grayak S. litura tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Kultur Teknis

Kultur teknis terdiri dari; (a) Sanitasi lahan terutama pada lahan-lahan yang endemis atau bekas terkena serangan S. litura, caranya dingan melakukan olah tanah secara sempurna agar pupa yang awalnya tersembunyi di tanah terbawa keatas sehingga terkena sinar matahari langsung dan merusak pupa. (b) Tanam serempak, dampak dari bertanam serempak adalah terjadinya penurunan populasi awal hama, sehingga kehilangan hasil per satuan luas dapat diperkecil. Tanam serempak dilakukan dengan selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari. (c) Pergiliran tanaman, tujuan pergiliran tanaman adalah untuk menekan populasi hama, pada umumnya dan S. litura pada khususnya melalui kelangkaan tanaman inang pada musim sebelumnya sehingga taraf perkembangan populasi hama di alam menjadi terbatas. (d) Tanaman perangkap, ini bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan supaya populasi hama yang akan dikendalikan mengumpul pada areal terbatas. Dengan demikian pengendalian hanya dilakukan pada tanaman perangkap. Tanaman kedelai dapat dijadikan sebagai tanaman perangkap karena cenderung disukai oleh S. litura.

2.      Mekanis

Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur dan kelompok ulat seperti pada gambar/foto yang tercantum diatas lalu kemudian dimusnahkan/ dibakar. Waktu terbaik untuk mengumpulkan dan mengambil larva adalah pagi hari dan sore hari, pada siang hari ulat akan bersembunyi dibalik daun-daun kering di permukaan tanah. Apabila luas kebun cukup kecil dan untuk konsumsi sendiri langkah pengumpulan kelompok telur dan ulat menjadi langkah yang paling tepat dan aman baik bagi lingkungan dan kesehatan.

3.      Biologi

Salah satu faktor yang mengendalikan S. litura di alam adalah musuh alami. Musuh alami yang menyerang S. litura terdiri dari tiga kelompok yaitu predator, parasitoid, dan patogen. musuh alami ulat grayak terdiri dari; (a) predator seperti burung pemakan ulat, laba-laba jenis Oxyopes javanus Thorell dan Lycosa pseudoannulata, tomket Paederus fuscipes dan semut merah Solenopsis geminata. (2) Parasitoid seperti Snellenius manilae Ashmed, Megoselia scalaris Loew dan Peribaea orbata Wied. (3) Patogen serangga seperti Borrelinavirus litura, Bacillus thuringiensis Berliner, Metharizium anisopliae dan Nuclear Ployhidrosis Virus (NPV). Keberadaan predator seperti burung pemakan ulat tentunya harus dilestarikan karena secara efektif mengontrol populasi hama ulat secara umum. Keberadaan predator dan parasitoid juga akan lebih lestari dengan cara penggunaan pestisida yang bijaksana. Sedangkan untuk patogen serangga sudah banyak yang menjual dalam bentuk produk pestisida hayati yang mengandung patogen serangga seperti Borrelinavirus litura, Bacillus thuringiensis Berliner dan Metharizium anisopliae.

4.      Pestisida Nabati dan Pestisida Kimia Sintetis

Pengendalian kimia bisa dibagi menjadi dua, yang pertama adalah pengendalian dengan pestisida nabati yang bahan kimianya diekstrak dari bahan tumbuhan sehingga lebih ramah lingkungan dan yang kedua adalah pestisida kimia sintetis yang relatif tidak ramah lingkungan. Pestisida nabati dapat dibeli maupun dibuat sendiri, contohnya dengan membuat pestisida kisela yang terbuat dari campuran daun kipait, sereh wangi dan lengkuas. Sedangkan pestisida kimia sintetis merupakan alternatif terakhir ketika semua teknik pengendalian sudah tidak mampu menekan populasi hama, jenis bahan aktif yang direkomendasikan adalah klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin, lamdasihalotrin, fluxametamide, emamektin benzoate dan profenofos.

 

Sumber Pustaka:

1.    Arifin, M. 1992. Bioekologi, serangan, dan pengendalian hama pemakan daun kedelai. hlm 81–103. Dalam Marwoto et al. (Peny.). Risalah Lokakarya Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Kedelai, 8–10 Agutus 1991. Balittan Malang

2.      Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of crops in Indonesia. Revised and translated by P.A. van der Laan. Ichtiar Baru-van Hoeve. Jakarta. 710 p.

3.      Tengkano, W. Dan Suharsono. Ulat Grayak Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera: Noctuidae) Pada Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya. https://media.neliti.com/media/publications/226478