Umumnya
pengendalian ulat grayak yang dilakukan oleh petani masih mengutamakan
penggunaan pestisida kimia sintetis. Disamping penggunaannya yang bermanfaat
untuk pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) pestisida kimia sintetis
juga memiliki dampak negatif bagi lingkungan diantaranya adalah pencemaran
lingkungan (tanah, air), membunuh musuh alami, terjadi resistensi hama,
penumpukan residu pestisida pada produk, dan keracunan petani yang
menggunakannya. Mempertimbangkan dampak negatif dari penggunaan pestisida
sintetik tersebut, maka penting untuk memilih teknologi pengendalian lain.
Pengendalian
yang ramah lingkungan dan pengelolaan hama terpadu dapat menjadi alternatif
dalam bidang pertanian. Konsep pengelolaan hama terpadu sangat penting dilaksanakan
dengan memadukan beberapa komponen pengendalian menjadi satu paket teknologi
yang dapat diterapkan mulai dari tahap penyiapan lahan. Strategi pengendalian
terpadu dari ulat grayak S. litura tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Kultur
Teknis
Kultur teknis terdiri dari; (a)
Sanitasi lahan terutama pada lahan-lahan yang endemis atau bekas terkena
serangan S. litura, caranya dingan melakukan olah tanah secara sempurna
agar pupa yang awalnya tersembunyi di tanah terbawa keatas sehingga terkena sinar
matahari langsung dan merusak pupa. (b) Tanam serempak, dampak dari bertanam
serempak adalah terjadinya penurunan populasi awal hama, sehingga kehilangan
hasil per satuan luas dapat diperkecil. Tanam serempak dilakukan dengan selisih
waktu tanam tidak lebih dari 10 hari. (c) Pergiliran tanaman, tujuan pergiliran
tanaman adalah untuk menekan populasi hama, pada umumnya dan S. litura
pada khususnya melalui kelangkaan tanaman inang pada musim sebelumnya sehingga
taraf perkembangan populasi hama di alam menjadi terbatas. (d) Tanaman
perangkap, ini bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan supaya populasi hama
yang akan dikendalikan mengumpul pada areal terbatas. Dengan demikian
pengendalian hanya dilakukan pada tanaman perangkap. Tanaman kedelai dapat
dijadikan sebagai tanaman perangkap karena cenderung disukai oleh S. litura.
2. Mekanis
Pengendalian secara mekanis dapat
dilakukan dengan mengambil kelompok telur dan kelompok ulat seperti pada
gambar/foto yang tercantum diatas lalu kemudian dimusnahkan/ dibakar. Waktu
terbaik untuk mengumpulkan dan mengambil larva adalah pagi hari dan sore hari,
pada siang hari ulat akan bersembunyi dibalik daun-daun kering di permukaan
tanah. Apabila luas kebun cukup kecil dan untuk konsumsi sendiri langkah
pengumpulan kelompok telur dan ulat menjadi langkah yang paling tepat dan aman
baik bagi lingkungan dan kesehatan.
3. Biologi
Salah satu faktor yang mengendalikan S.
litura di alam adalah musuh alami. Musuh alami yang menyerang S. litura
terdiri dari tiga kelompok yaitu predator, parasitoid, dan patogen. musuh alami
ulat grayak terdiri dari; (a) predator seperti burung pemakan ulat, laba-laba
jenis Oxyopes javanus Thorell dan Lycosa pseudoannulata, tomket
Paederus fuscipes dan semut merah Solenopsis geminata. (2) Parasitoid
seperti Snellenius manilae Ashmed, Megoselia scalaris Loew dan Peribaea
orbata Wied. (3) Patogen serangga seperti Borrelinavirus litura, Bacillus
thuringiensis Berliner, Metharizium anisopliae dan Nuclear
Ployhidrosis Virus (NPV). Keberadaan predator seperti burung pemakan ulat
tentunya harus dilestarikan karena secara efektif mengontrol populasi hama ulat
secara umum. Keberadaan predator dan parasitoid juga akan lebih lestari dengan
cara penggunaan pestisida yang bijaksana. Sedangkan untuk patogen serangga
sudah banyak yang menjual dalam bentuk produk pestisida hayati yang mengandung
patogen serangga seperti Borrelinavirus litura, Bacillus
thuringiensis Berliner dan Metharizium anisopliae.
4. Pestisida
Nabati dan Pestisida Kimia Sintetis
Pengendalian kimia bisa dibagi
menjadi dua, yang pertama adalah pengendalian dengan pestisida nabati yang
bahan kimianya diekstrak dari bahan tumbuhan sehingga lebih ramah lingkungan
dan yang kedua adalah pestisida kimia sintetis yang relatif tidak ramah
lingkungan. Pestisida nabati dapat dibeli maupun dibuat sendiri, contohnya
dengan membuat pestisida kisela yang terbuat dari campuran daun kipait, sereh
wangi dan lengkuas. Sedangkan pestisida kimia sintetis merupakan alternatif
terakhir ketika semua teknik pengendalian sudah tidak mampu menekan populasi
hama, jenis bahan aktif yang direkomendasikan adalah klorpirifos, sipermetrin,
betasiflutrin, lamdasihalotrin, fluxametamide, emamektin benzoate dan
profenofos.
Sumber Pustaka:
1. Arifin, M. 1992.
Bioekologi, serangan, dan pengendalian hama pemakan daun kedelai. hlm 81–103.
Dalam Marwoto et al. (Peny.). Risalah Lokakarya Pengendalian Hama Terpadu
Tanaman Kedelai, 8–10 Agutus 1991. Balittan Malang
2.
Kalshoven, L.G.E. 1981.
Pests of crops in Indonesia. Revised and translated by P.A. van der Laan.
Ichtiar Baru-van Hoeve. Jakarta. 710 p.
3. Tengkano,
W. Dan Suharsono. Ulat Grayak Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera:
Noctuidae) Pada Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya.
https://media.neliti.com/media/publications/226478