Rafika Ardiani, S.P. POPT Ahli
Pertama/Balai Penyuluhan Pertanian
Kecamatan Gerokgak
Penggunaan pestisida telah menjadi salah
satu cara utama yang dilakukan petani dalam mengendalikan organisme pengganggu
tanaman (OPT). Pestisida dianggap sebagai solusi cepat dan praktis untuk
menekan populasi hama yang dapat menurunkan hasil pertanian. Namun, tidak
jarang petani mengeluhkan bahwa meskipun sudah menyemprotkan pestisida berulang
kali, hama tetap tidak hilang bahkan semakin sulit dikendalikan. Fenomena ini
dikenal dengan istilah resistensi hama terhadap pestisida.
Apa Itu Resistensi Hama?
Resistensi hama adalah kemampuan suatu
populasi hama untuk bertahan hidup meskipun telah terpapar dosis pestisida yang
sebelumnya efektif membunuhnya. Kondisi ini muncul akibat tekanan seleksi, di
mana hanya individu hama yang memiliki sifat tahan (resisten) yang mampu
bertahan, kemudian berkembang biak dan mendominasi populasi berikutnya.
Akibatnya, pestisida yang sama tidak lagi efektif meskipun dosisnya
ditingkatkan.
Faktor Penyebab Resistensi
Beberapa faktor yang mendorong
terjadinya resistensi hama antara lain:
1. Penggunaan pestisida yang berlebihan tanpa
memperhatikan dosis anjuran.
2. Pemakaian
jenis pestisida yang sama secara terus-menerus, sehingga hama terbiasa dan
beradaptasi.
3. Kurangnya
penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang seharusnya memadukan metode
biologis, mekanis, dan kimiawi.
4. Siklus hidup
hama yang cepat, memungkinkan terjadinya mutasi genetik yang mendukung
ketahanan.
Dampak Resistensi bagi Petani
Resistensi hama membawa kerugian besar
bagi petani. Selain biaya produksi meningkat akibat pembelian pestisida
tambahan, hasil panen pun dapat menurun drastis karena serangan hama tetap
tinggi. Tidak hanya itu, peningkatan dosis dan frekuensi aplikasi pestisida
juga dapat mencemari lingkungan serta menimbulkan risiko kesehatan bagi
manusia.
Solusi Mengatasi Resistensi
Untuk mencegah dan mengendalikan
resistensi, petani perlu menerapkan strategi berikut:
·
Rotasi bahan aktif pestisida dengan
mekanisme kerja yang berbeda.
·
Mengurangi ketergantungan pada pestisida
dengan menerapkan PHT, misalnya memanfaatkan musuh alami hama seperti
parasitoid dan predator.
·
Menggunakan pestisida sesuai dosis
anjuran, tidak berlebihan maupun kurang dari ketentuan.
·
Mengintegrasikan teknologi budidaya
ramah lingkungan, seperti varietas tahan hama dan sanitasi lahan.
Jika hama tidak kunjung hilang meski
sudah menggunakan pestisida, besar kemungkinan Anda sedang menghadapi masalah
resistensi. Solusinya bukan sekadar meningkatkan dosis, melainkan dengan
menerapkan prinsip pengendalian yang bijak dan terpadu. Dengan demikian,
keberlanjutan produksi pertanian dapat terjaga, hasil panen meningkat, dan
kerugian akibat serangan hama dapat ditekan.
Sumber :
Prijono, D. (2021). Resistensi serangga hama terhadap insektisida: mekanisme, deteksi dan strategi pengelolaannya. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia.
Sparks, T. C., & Nauen, R. (2015).
IRAC: Mode of action classification and insecticide resistance management.
Pesticide Biochemistry and Physiology, 121, 122–128.
Hidayat, P., & Buchori, D.
(2018). Resistensi serangga hama: ancaman terhadap ketahanan pangan.
Jurnal Entomologi Indonesia.