(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

MENGENAL KUTU KEBUL SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT VIRUS KUNING PADA TANAMAN KACANG PANJANG

Admin distan | 25 Agustus 2025 | 191 kali


 

Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama

pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Seririt

 

Kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan vektor utama penyakit virus dari golongan geminivirus dan lebih dari 192 jenis virus kelompok ini ditularkan oleh kutu kebul. Kutu kebul merusak tanaman secara langsung dengan cara mengisap cairan floem pada daun. Kerusakan langsung pada tanaman disebabkan oleh imago dan nimfa yang mengisap cairan daun, berupa gejala bercak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis tidak berlangsung normal.

Kutu kebul termasuk dalam ordo Homoptera, famili Aleyrodidae, genus Bemisia, dan spesies tabaci. Imago atau serangga dewasa berukuran antara 1 1,5 mm, berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Telur kutu kebul berbentuk lonjong, berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 0,3 mm. Nimfa terdiri atas tiga instar, yaitu instar ke-1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke-2 dan ke-3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun. Lama hidup kutu kebul tergantung dengan keadaan lingkungan dan faktor lain. Lama hidup imago rata-rata berkisar antara 6 - 7 hari.

Kutu kebul meletakkan telur dan menghisap cairan daun dapat dilakukan pada satu daun ataupun dapat juga berpindah-pindah. Cara pemilihan inang kutu kebul antaralain pemilihan tanaman sebelum hinggap yaitu kutu kebul memilih spesies tanaman dengan warna tertentu dimana warna kuning atau hijau sangat disukai. Pemilihan inang setelah hinggap berkaitan dengan kesukaan makan kutu kebul, dimana kutu kebul biasanya suka pada daun yang berserat seperti kapas atau sangat menyukai daun yang bertrikoma. Hama jenis ini dapat menyerang tanaman dari famili Compositae (letus, krisan), Cucurbitaceae (mentimun, labu, labu air, pare, semangka dan zuchini), Cruciferae (brokoli, kembang kol, kubis, lobak), Solanaceae (tembakau, terong, kentang, tomat, cabai), dan Leguminoceae (kedelai, kacang hijau, kacang tanah, buncis, kapri). Selain itu, kutu kebul juga mempunyai inang selain tanaman pangan yaitu gulma babadotan (Ageratum conyzoides). 

Keterjadian penyakit virus kuning oleh virus Gemini sangat erat kaitannya dengan vektor kutu kebul. Semakin tinggi populasi kutu kebul maka semakin tinggi pula keterjadian penyakit kuning. Serangga vektor, seperti mahluk hidup lainnya, perkembangannya dipengaruhi oleh iklim baik secara langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif, dan curah hujan berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Kutu kebul dapat dijumpai pada tanaman yang berumur 20 hst sedangkan puncak populasi kutu terjadi pada saat tanaman berumur 60–70 hst. Selain itu, semakin tua umur tanaman, maka populasi kutu kebul cenderung semakin menurun. Tanaman pada umur tersebut tidak disukai lagi sebagai makanan dan tempat peletakan telur oleh imago kutu kebul karena daun-daun muda sudah tidak ada atau pertumbuhan vegetatif tanaman sudah berhenti

Penyebaran virus kuning dilakukan oleh kutu kebul maka akan muncul gejala mosaik, daun terlihat belang kuning hijau, tulang daun hijau, dengan permukaan daun mengkerut dan bergelombang. Sedangkan gejala kuning terlihat bercak-bercak kuning pada daun, tersebar sepanjang urat daun, membesar hingga permukaan daun menguning keseluruhan. Penyakit virus kuning ini secara keseluruhan dapat menyebabkan malformasi daun, tanaman kerdil, pembungaan terhambat, penurunan berat polong. Oleh sebab itu ketika tanaman terserang, akan sulit dipulihkan kembali.

Cara pencegahan dan pengendaliannya adalah (a) melakukan pergiliran tanaman, (b) apabila suatu lahan terserang secara terus menerus, sebaiknya pada musim hujan tidak ditanami tanaman inang, (c) pengendalian secara biologi dengan menggunakan musuh alaminya kumbang Scymnus sp. dan jenis laba-laba (d) pengendalian secara kimia antara lain dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif monokrotofos.

 

Daftar Pustaka

Inayati A. dan Marwoto. 2015. Kultur Teknis sebagai Dasar Pengendalian Hama Kutu Kebul Bemicia tabaci Genn. pada Tanaman Kedelai. Buletin Palawija 29:14-25.

Marwoto, Febria C. I., Apri S. dan Ratri T. H. 2009. Diagnosis Ledakan Populasi Kutu Kebul Bemisia tabaci pada Pertanaman Kedelai. Prosiding Seminar Nasional hasil Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian hal. 277-288

Sari, K. P., Suharsono., dan A. Kasno. 2015. Kelimpahan Populasi Kutu Kebul Pada Genotipe Kedelai. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang

Sudiono dan Purnomo. 2009. Hubungan antara Populasi Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.) dan Penyakit Kuning pada Cabai di Lampung Barat. J. HPT Tropika. 9(2): 115 – 120.

Yuliani, P. Hidayat, dan D. Sartiami. 2006. Identifikasi Kutu Kebul (Hemiptera: Aleyrodidae) dari Beberapa Tanaman Inang dan Perkembangan Populasinya. Jurnal Entomologi Indonesia. 3 (1) : 41 – 49.