Oleh:
Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Seririt
Kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan
vektor utama penyakit virus dari golongan geminivirus dan lebih dari 192 jenis
virus kelompok ini ditularkan oleh kutu kebul. Kutu kebul merusak tanaman secara
langsung dengan cara mengisap cairan floem pada daun. Kerusakan langsung pada tanaman
disebabkan oleh imago dan nimfa yang mengisap cairan daun, berupa gejala bercak
nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Ekskresi kutu
kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya
embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis tidak
berlangsung normal.
Kutu kebul termasuk dalam ordo Homoptera,
famili Aleyrodidae, genus Bemisia, dan spesies tabaci. Imago atau serangga
dewasa berukuran antara 1 – 1,5 mm, berwarna putih, dan sayapnya
jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Telur kutu kebul berbentuk
lonjong, berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 – 0,3
mm. Nimfa terdiri atas tiga instar, yaitu instar ke-1 berbentuk bulat telur dan pipih,
berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa
instar ke-2
dan ke-3
tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun. Lama hidup kutu kebul tergantung
dengan keadaan lingkungan dan faktor lain. Lama hidup imago rata-rata berkisar
antara 6 - 7 hari.
Kutu kebul meletakkan telur dan menghisap
cairan daun dapat dilakukan pada satu daun ataupun dapat juga berpindah-pindah.
Cara pemilihan inang kutu kebul antaralain pemilihan tanaman sebelum hinggap
yaitu kutu kebul memilih spesies tanaman dengan warna tertentu dimana warna
kuning atau hijau sangat disukai. Pemilihan inang setelah hinggap berkaitan
dengan kesukaan makan kutu kebul, dimana kutu kebul biasanya suka pada daun
yang berserat seperti kapas atau sangat menyukai daun yang bertrikoma. Hama
jenis ini dapat menyerang tanaman dari famili Compositae (letus, krisan),
Cucurbitaceae (mentimun, labu, labu air, pare, semangka dan zuchini),
Cruciferae (brokoli, kembang kol, kubis, lobak), Solanaceae (tembakau, terong,
kentang, tomat, cabai), dan Leguminoceae (kedelai, kacang hijau, kacang tanah,
buncis, kapri). Selain itu, kutu kebul juga mempunyai inang selain tanaman
pangan yaitu gulma babadotan (Ageratum conyzoides).
Keterjadian penyakit virus kuning oleh virus Gemini sangat erat kaitannya
dengan vektor kutu kebul. Semakin tinggi populasi kutu kebul maka semakin
tinggi pula keterjadian penyakit kuning. Serangga vektor, seperti mahluk hidup
lainnya, perkembangannya dipengaruhi oleh iklim baik secara langsung maupun
tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif, dan curah hujan
berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta
kemampuan diapause serangga. Kutu kebul dapat dijumpai pada tanaman yang
berumur 20 hst sedangkan puncak populasi kutu terjadi pada saat tanaman berumur
60–70 hst. Selain itu, semakin tua umur tanaman, maka populasi kutu kebul
cenderung semakin menurun. Tanaman pada umur tersebut tidak disukai lagi
sebagai makanan dan tempat peletakan telur oleh imago kutu kebul karena
daun-daun muda sudah tidak ada atau pertumbuhan vegetatif tanaman sudah
berhenti
Penyebaran virus kuning dilakukan oleh
kutu kebul maka akan muncul gejala mosaik, daun terlihat belang kuning hijau,
tulang daun hijau, dengan permukaan daun mengkerut dan bergelombang. Sedangkan
gejala kuning terlihat bercak-bercak kuning pada daun, tersebar sepanjang urat
daun, membesar hingga permukaan daun menguning keseluruhan. Penyakit virus
kuning ini secara keseluruhan dapat menyebabkan malformasi daun, tanaman
kerdil, pembungaan terhambat, penurunan berat polong. Oleh sebab itu
ketika tanaman terserang, akan sulit dipulihkan kembali.
Cara pencegahan dan pengendaliannya adalah
(a) melakukan pergiliran tanaman, (b) apabila suatu lahan terserang secara
terus menerus, sebaiknya pada musim hujan tidak ditanami tanaman inang, (c)
pengendalian secara biologi dengan menggunakan musuh alaminya kumbang Scymnus
sp. dan jenis laba-laba (d) pengendalian secara kimia antara lain dengan
penyemprotan insektisida berbahan aktif monokrotofos.
Daftar Pustaka
Inayati A. dan Marwoto. 2015. Kultur Teknis sebagai
Dasar Pengendalian Hama Kutu Kebul Bemicia tabaci Genn. pada Tanaman
Kedelai. Buletin Palawija 29:14-25.
Marwoto, Febria C. I., Apri S. dan Ratri T. H. 2009.
Diagnosis Ledakan Populasi Kutu Kebul Bemisia tabaci pada Pertanaman
Kedelai. Prosiding Seminar Nasional hasil Penelitian Tanaman Kacang-kacangan
dan Umbi-umbian hal. 277-288
Sari,
K. P., Suharsono., dan A. Kasno. 2015. Kelimpahan Populasi Kutu Kebul Pada
Genotipe Kedelai. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan
Umbi. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang
Sudiono dan Purnomo. 2009. Hubungan antara Populasi
Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.) dan Penyakit Kuning pada Cabai di
Lampung Barat. J. HPT Tropika. 9(2): 115 – 120.
Yuliani,
P. Hidayat, dan D. Sartiami. 2006. Identifikasi Kutu Kebul (Hemiptera:
Aleyrodidae) dari Beberapa Tanaman Inang dan Perkembangan Populasinya. Jurnal
Entomologi Indonesia. 3 (1) : 41 – 49.