Oleh : I Gede Sila Adnyana, S.P. ( POPT Ahli Pertama )
Tanaman stroberi (Fragaria x ananassa) merupakan salah satu
komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diminati
masyarakat karena rasanya yang manis dan kandungan nutrisi yang kaya. Namun,
budidaya stroberi tidak lepas dari ancaman berbagai penyakit, salah satunya
adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum.
Penyakit ini dikenal sebagai Fusarium wilt atau penyakit layu
Fusarium, yang dapat menyebabkan kerugian besar pada tanaman stroberi jika
tidak dikelola dengan baik.
Penyakit layu Fusarium pada stroberi dapat menyebabkan
kematian tanaman dan menurunkan hasil produksi secara signifikan. Salah satu
metode pengendalian yang mulai banyak diterapkan adalah penggunaan agen hayati Trichoderma
sebagai biofungisida alami (agens hayati).
Fusarium oxysporum merupakan jamur patogen tanah
yang dapat bertahan di tanah dalam bentuk spora yang sangat resisten (chlamydospore)
selama bertahun-tahun tanpa inang. Siklus hidup Fusarium oxysporum
dimulai ketika spora dorman ini mendapatkan kondisi lingkungan yang mendukung,
seperti kelembapan yang tinggi dan suhu tanah yang hangat. Spora kemudian
berkecambah dan menginfeksi tanaman melalui akar.
Setelah masuk ke sistem akar, Fusarium oxysporum
menyerang jaringan xilem (pembuluh pengangkut air), menghambat transportasi air
dan nutrisi dari akar ke seluruh bagian tanaman. Ini menyebabkan gejala layu
pada tanaman, terutama pada kondisi cuaca yang panas atau ketika tanaman
membutuhkan lebih banyak air. Infeksi dapat menyebar ke seluruh tanaman melalui
jaringan vaskular dan berlanjut hingga tanaman akhirnya mati.
Jamur ini menghasilkan spora dalam jaringan tanaman yang
terinfeksi, yang kemudian dilepaskan ke tanah saat tanaman mati atau
bagian-bagian tanaman membusuk. Spora-spora ini dapat bertahan dalam tanah
dalam waktu yang lama dan menginfeksi tanaman lain yang ditanam di lahan yang
sama.
Gejala awal infeksi Fusarium oxysporum pada tanaman
stroberi biasanya sulit dikenali karena dimulai dari akar, yang tidak terlihat
oleh petani. Namun, beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
1. Layu pada daun: Daun tanaman mulai layu meskipun kondisi tanah tampak
lembap. Layu ini sering kali dimulai dari daun bagian bawah, kemudian menyebar
ke bagian atas tanaman.
2.
Kuning pada daun: Daun yang terinfeksi mulai menguning, terutama di sepanjang
tepi daun.
3.
Pertumbuhan terhambat: Tanaman yang terinfeksi biasanya tumbuh lebih lambat
dibandingkan tanaman sehat di sekitarnya.
4.
Kematian tanaman: Jika infeksi parah, tanaman stroberi bisa mati dalam
beberapa minggu setelah gejala awal muncul.
5. Akar membusuk: Akar yang terinfeksi terlihat coklat gelap atau hitam, menunjukkan adanya pembusukan.
Pengendalian
penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara
kimiawi, mekanis, maupun hayati. Salah satu metode yang cukup efektif dan ramah
lingkungan adalah penggunaan agen hayati Trichoderma spp.. Trichoderma
merupakan jamur antagonis yang dapat menghambat perkembangan jamur patogen
seperti Fusarium oxysporum melalui berbagai mekanisme, antara lain:
1. Kompetisi ruang dan nutrisi: Trichoderma bersaing
dengan Fusarium dalam mendapatkan ruang dan nutrisi di zona akar
tanaman stroberi. Dengan kehadiran Trichoderma, perkembangan Fusarium
dapat ditekan karena sumber daya yang diperlukan untuk pertumbuhannya
berkurang.
2. Mekanisme parasitisme: Trichoderma dapat berperan sebagai parasit
bagi Fusarium. Jamur ini menghasilkan enzim-enzim seperti chitinase yang
dapat melarutkan dinding sel Fusarium, sehingga menyebabkan kerusakan
dan kematian pada patogen tersebut.
3. Produksi metabolit antimikroba: Trichoderma menghasilkan
senyawa antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan Fusarium dan
patogen lainnya. Senyawa ini berfungsi sebagai penghalang alami yang melindungi
akar tanaman stroberi dari serangan patogen.
4. Induksi ketahanan tanaman: Selain bertindak sebagai agen biologis, Trichoderma juga mampu merangsang tanaman untuk meningkatkan ketahanan terhadap infeksi patogen. Jamur ini memicu sistem pertahanan tanaman (Systemic Acquired Resistance, SAR) yang membantu tanaman stroberi lebih tahan terhadap serangan Fusarium.
Untuk
mengoptimalkan pengendalian penyakit Fusarium, Trichoderma
dapat diaplikasikan pada beberapa tahap dalam budidaya stroberi:
1. Pengolahan tanah: Sebelum penanaman, tanah dapat diinokulasi dengan spora Trichoderma
untuk meningkatkan populasi jamur baik di dalam tanah dan mengurangi risiko
infeksi Fusarium. Inokulasi ini bisa dilakukan dengan mencampur kompos
atau pupuk kandang yang telah diperkaya dengan Trichoderma.
2. Perlakuan pada bibit: Bibit stroberi dapat direndam dalam larutan spora Trichoderma
sebelum ditanam untuk memberikan perlindungan awal terhadap serangan Fusarium.
3. Aplikasi secara periodik: Trichoderma dapat diaplikasikan secara berkala melalui penyiraman atau pemupukan berkelanjutan, terutama di daerah dengan sejarah serangan Fusarium. Ini bertujuan untuk menjaga populasi Trichoderma tetap tinggi di zona akar.
Penyakit layu Fusarium merupakan ancaman serius bagi tanaman stroberi, terutama karena sifatnya yang sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Namun, dengan penggunaan agen hayati seperti Trichoderma, petani dapat menerapkan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengendalikan penyakit ini. Trichoderma tidak hanya efektif dalam menekan pertumbuhan Fusarium, tetapi juga memberikan manfaat lain seperti meningkatkan ketahanan tanaman dan membuat pertumbuhan yang sehat. Pengelolaan terpadu yang melibatkan penggunaan agen hayati, praktik budidaya yang baik, dan sanitasi lingkungan yang tepat dapat membantu petani dalam mengatasi tantangan ini dan meningkatkan hasil produksi stroberi yang optimal.