Oleh
: I Gede Sila Adnyana, S.P.
( POPT Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukasada )
Kepik
Penghisap Buah, dengan nama ilmiah Helopeltis spp., merupakan salah satu hama
paling merugikan dalam dunia pertanian, khususnya pada komoditas perkebunan
seperti kakao, jambu mete, dan teh. Serangga kecil ini termasuk dalam ordo
Hemiptera dan famili Miridae. Meski ukurannya tidak besar, dampak serangannya
sangat signifikan, menyebabkan kerusakan pada tunas, daun muda, dan buah, yang
akhirnya menurunkan kualitas dan kuantitas panen. Pemahaman mendalam tentang
hama ini mutlak diperlukan untuk merancang strategi pengendalian yang efektif.
Ciri
fisik Kepik Penghisap Buah sangat khas dan dapat dikenali dengan mata
telanjang. Serangga dewasa memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 7
hingga 10 milimeter. Warnanya bervariasi, umumnya merah kecoklatan atau hitam.
Fitur yang paling membedakan dan mudah diidentifikasi adalah adanya tonjolan
menyerupai jarum (disebut sclerite) di bagian punggung (thorax)-nya. Pada
spesies Helopeltis antonii yang paling umum, tonjolan ini berwarna hitam dengan
ujung berwarna putih, menyerupai sebuah jarum pentul yang menancap.
Daur
hidup Helopeltis dimulai dari fase telur yang diletakkan oleh betina secara
tunggal atau berkelompok ke dalam jaringan lunak tunas atau ranting muda.
Telurnya berwarna putih dan bentuknya mirip buah pisang kecil. Setelah menetas,
muncul nimfa (serangga muda) yang berwarna kekuningan atau kemerahan dan sangat
aktif bergerak. Nimfa ini akan mengalami beberapa kali ganti kulit (instar)
sebelum akhirnya menjadi dewasa. Siklus hidup dari telur hingga dewasa
tergolong singkat, hanya berkisar 3 hingga 4 minggu, yang memungkinkan populasi
mereka meledak dengan sangat cepat jika tidak dikendalikan.
Gejala
serangan Helopeltis mudah dikenali dari tanda fisik pada tanaman. Hama ini,
baik nimfa maupun dewasa, menghisap cairan tanaman dengan menusuk jaringan yang
masih muda dan lunak seperti pucuk, daun muda, dan buah. Air liurnya yang
mengandung racun memicu reaksi nekrosis atau kematian jaringan. Gejala khasnya
muncul sebagai bintik-bintik hitam yang dikelilingi cincin kekuningan pada buah
dan daun. Bintik ini kemudian akan membesar, mengering, dan sering menyebabkan
buah menjadi cacat.
Dampak
ekonomi yang ditimbulkan oleh serangan Helopeltis sangatlah serius dan dapat
menghancurkan secara finansial. Pada tanaman kakao dan jambu mete, serangan
parah dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 50-80%. Buah yang terserang
menjadi cacat, kerdil, berkualitas rendah, dan tidak layak jual, atau bahkan
gugur sebelum matang. Selain kehilangan hasil panen, petani juga harus
menanggung biaya tambahan untuk melakukan upaya pengendalian, sehingga secara
keseluruhan profitabilitas usaha tani menjadi sangat berkurang.
Pengendalian
yang paling berkelanjutan dan ramah lingkungan adalah melalui pendekatan
non-kimia. Pengendalian hayati memanfaatkan musuh alami Helopeltis, seperti
semut rang-rang (Oecophylla smaragdina) yang menjadi predator agresif, dan
parasitoid telur (Erythmelus helopeltidis). Dari sisi kulturteknis, pemangkasan
rutin untuk membuang bagian yang terserang, sanitasi kebun dari gulma inang
(seperti kirinyuh), serta penanaman tumpang sari dengan tanaman bukan inang
sangat efektif untuk menekan populasi hama.
Penggunaan
insektisida kimiawi hanya dianjurkan sebagai alternatif terakhir ketika
populasi hama sudah sangat tinggi dan melewati ambang ekonomi. Aplikasi yang
tidak bijaksana justru akan memicu resistensi hama dan memusnahkan musuh alami.
Jika diperlukan, pilihlah insektisida yang selektif. Opsi yang relatif aman
adalah insektisida botani berbahan dasar nimba (azadirachtin) atau tembakau.
Insektisida sintetik dengan bahan aktif deltametrin atau imidakloprid dapat
digunakan dengan sangat hati-hati dan sesuai rekomendasi.
Secara
keseluruhan, pengendalian hama Kepik Penghisap Buah (Helopeltis) memerlukan
pendekatan terpadu yang berkelanjutan. Kunci utamanya adalah pemantauan rutin
untuk mendeteksi keberadaan hama secara dini. Strategi yang paling efektif
adalah mengombinasikan pengendalian kulturteknis dan hayati untuk menciptakan
keseimbangan ekosistem kebun, sehingga ketergantungan pada insektisida kimia
dapat diminimalisir. Konsultasi dengan penyuluh pertanian setempat sangat
disarankan untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat sesuai kondisi spesifik
lokasi kebun.
Daftar Pustaka:
Direktorat Jenderal Perkebunan. (2017). Pedoman Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Winarno, B., &
Marwoto. (2018). Efektivitas Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina) sebagai
Agen Pengendali Hayati Hama
Helopeltis spp. pada Tanaman Kakao. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia,
22(2), 145- 151.
Soeroto, M., &
Soetopo, D. (2019). Seri Agritek: Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman
Perkebunan.
Maryani, Y dan Cucu D.
2019. Buku Saku Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan.
Kementerian Pertanian. Jakarta.