(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Mengenal Hama Kepik Penghisap Buah (Helopeltis) dan Strategi Pengendalian yang Efektif

Admin distan | 27 Agustus 2025 | 40 kali



Oleh : I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukasada )


Kepik Penghisap Buah, dengan nama ilmiah Helopeltis spp., merupakan salah satu hama paling merugikan dalam dunia pertanian, khususnya pada komoditas perkebunan seperti kakao, jambu mete, dan teh. Serangga kecil ini termasuk dalam ordo Hemiptera dan famili Miridae. Meski ukurannya tidak besar, dampak serangannya sangat signifikan, menyebabkan kerusakan pada tunas, daun muda, dan buah, yang akhirnya menurunkan kualitas dan kuantitas panen. Pemahaman mendalam tentang hama ini mutlak diperlukan untuk merancang strategi pengendalian yang efektif.

Ciri fisik Kepik Penghisap Buah sangat khas dan dapat dikenali dengan mata telanjang. Serangga dewasa memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 7 hingga 10 milimeter. Warnanya bervariasi, umumnya merah kecoklatan atau hitam. Fitur yang paling membedakan dan mudah diidentifikasi adalah adanya tonjolan menyerupai jarum (disebut sclerite) di bagian punggung (thorax)-nya. Pada spesies Helopeltis antonii yang paling umum, tonjolan ini berwarna hitam dengan ujung berwarna putih, menyerupai sebuah jarum pentul yang menancap.

Daur hidup Helopeltis dimulai dari fase telur yang diletakkan oleh betina secara tunggal atau berkelompok ke dalam jaringan lunak tunas atau ranting muda. Telurnya berwarna putih dan bentuknya mirip buah pisang kecil. Setelah menetas, muncul nimfa (serangga muda) yang berwarna kekuningan atau kemerahan dan sangat aktif bergerak. Nimfa ini akan mengalami beberapa kali ganti kulit (instar) sebelum akhirnya menjadi dewasa. Siklus hidup dari telur hingga dewasa tergolong singkat, hanya berkisar 3 hingga 4 minggu, yang memungkinkan populasi mereka meledak dengan sangat cepat jika tidak dikendalikan.

Gejala serangan Helopeltis mudah dikenali dari tanda fisik pada tanaman. Hama ini, baik nimfa maupun dewasa, menghisap cairan tanaman dengan menusuk jaringan yang masih muda dan lunak seperti pucuk, daun muda, dan buah. Air liurnya yang mengandung racun memicu reaksi nekrosis atau kematian jaringan. Gejala khasnya muncul sebagai bintik-bintik hitam yang dikelilingi cincin kekuningan pada buah dan daun. Bintik ini kemudian akan membesar, mengering, dan sering menyebabkan buah menjadi cacat.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh serangan Helopeltis sangatlah serius dan dapat menghancurkan secara finansial. Pada tanaman kakao dan jambu mete, serangan parah dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 50-80%. Buah yang terserang menjadi cacat, kerdil, berkualitas rendah, dan tidak layak jual, atau bahkan gugur sebelum matang. Selain kehilangan hasil panen, petani juga harus menanggung biaya tambahan untuk melakukan upaya pengendalian, sehingga secara keseluruhan profitabilitas usaha tani menjadi sangat berkurang.

Pengendalian yang paling berkelanjutan dan ramah lingkungan adalah melalui pendekatan non-kimia. Pengendalian hayati memanfaatkan musuh alami Helopeltis, seperti semut rang-rang (Oecophylla smaragdina) yang menjadi predator agresif, dan parasitoid telur (Erythmelus helopeltidis). Dari sisi kulturteknis, pemangkasan rutin untuk membuang bagian yang terserang, sanitasi kebun dari gulma inang (seperti kirinyuh), serta penanaman tumpang sari dengan tanaman bukan inang sangat efektif untuk menekan populasi hama.

Penggunaan insektisida kimiawi hanya dianjurkan sebagai alternatif terakhir ketika populasi hama sudah sangat tinggi dan melewati ambang ekonomi. Aplikasi yang tidak bijaksana justru akan memicu resistensi hama dan memusnahkan musuh alami. Jika diperlukan, pilihlah insektisida yang selektif. Opsi yang relatif aman adalah insektisida botani berbahan dasar nimba (azadirachtin) atau tembakau. Insektisida sintetik dengan bahan aktif deltametrin atau imidakloprid dapat digunakan dengan sangat hati-hati dan sesuai rekomendasi.

Secara keseluruhan, pengendalian hama Kepik Penghisap Buah (Helopeltis) memerlukan pendekatan terpadu yang berkelanjutan. Kunci utamanya adalah pemantauan rutin untuk mendeteksi keberadaan hama secara dini. Strategi yang paling efektif adalah mengombinasikan pengendalian kulturteknis dan hayati untuk menciptakan keseimbangan ekosistem kebun, sehingga ketergantungan pada insektisida kimia dapat diminimalisir. Konsultasi dengan penyuluh pertanian setempat sangat disarankan untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat sesuai kondisi spesifik lokasi kebun.          

 

Daftar Pustaka:

 Direktorat Jenderal Perkebunan. (2017). Pedoman Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kakao.      Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Winarno, B., & Marwoto. (2018). Efektivitas Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina) sebagai Agen Pengendali             Hayati Hama Helopeltis spp. pada Tanaman Kakao. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 22(2), 145- 151.

Soeroto, M., & Soetopo, D. (2019). Seri Agritek: Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Perkebunan.

Maryani, Y dan Cucu D. 2019. Buku Saku Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta.