(0362) 25090
distan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian

Mengenal Hama Kepinding Tanah (Scotinophora verminculata)

Admin distan | 19 Agustus 2025 | 147 kali


 

Oleh: Rosma Susiwaty Situmeang, S.P/POPT BPP Banjar

 

            Kepinding tanah merupakan salah satu hama utama padi yang dapat menyebabkan kerugian besar jika tidak dikendalikan dengan segera. Nimfa yang baru menetas berkelompok, kemudian menyebar kearah pangkal batang. Nimfa dan serangga dewasa menghisap cairan tanaman dari batang atau pelepah daun Kepinding tanah biasanya menyerang tanaman padi dengan cara menusuk dan mengisap cairan batang tanaman yang akhirnya dapat menyebabkan warna tanaman berubah menjadi coklat kemerahan atau kuning. Pada serangan berat ujung atau tepi daun, bagian tengah daun atau seluruh tanaman menjadi kering. Tanaman yang terserang kepinding tanah dapat mengakibatkan penurunan produksi karena apabila menyerang pada fase anakan akan menyebabkan jumlah anakan berkurang dan pertanaman terhambat atau kerdil. Sedangkan kalau kepinding tanah menyerang pada saat setelah fase bunting, tanaman menghasilkan malai yang kerdil, tidak lengkap dan akan menghasilkan gabah hampa. Dalam kondisi populasi kepinding tinggi tanaman yang dihisap dapat mati.

Pengisapan cairan oleh kepinding tanah menyebabkan warna tanaman berubah menjadi coklat kemerahan atau kuning. Buku pada batang merupakan tempat isapan yang disukai karena menyimpan bayak cairan. Pengisapan oleh  kepinding tanah pada fase anakan, menyebabkan jumlah anakan berkurang dan pertumbuhan terhambat (kerdil). Apabila serangan terjadi setelah fase bunting, tanaman menghasilkan malai yang kerdil, eksersi malai yang tidak lengkap, dan gabah hampa. Dalam kondisi populasi kepinding tinggi, tanaman yang dihisap dapat mati atau mengalami bugburn, seperti hopperburn oleh wereng coklat.

Kepinding tanah bergerombol di pangkal batang padi, persis di batas genangan air pada siang hari. Pada malam hari mereka naik batang padi dan mengisap cairan dari dalam jaringan tanaman. Selama musim kemarau, kepinding tanah menghabiskan waktunya di belahan tanah-tanah yang ditumbuhi rumput. Kepinding tanah dapat terbang ke pertanaman padi dan berkembang biak dalam beberapa generasi. Mereka kembali ke fase dormannya setelah padi dipanen. Kepinding dewasa dapat berpindah menempuh jarak yang jauh dan tertarik pada sinar dengan intensitas yang kuat dan penangkapan tertinggi diperoleh pada saat bulan purnama.

                Populasi kepinding tanah akan cepat berkembang apabila para petani tidak melakukan tanam serempak, hal ini menyebabkan ketersediaan pakan bagi kepinding tanah yang biasanya akan dorman setelah panen padi, namun karena panen dilakukan secara terus menerus akibat tanam yang tidak serempak maka dormansi dari kepinding ini menjadi pendek. Selain itu akibat dari cuaca yang tidak menentu yang kadang panas kadang hujan yang menyebabkan lahan kering basah akan meningkatkan perkembangan populasi hama kepinding tanah.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk  pengendalian kepinding tanah yaitu:  

·      Menggunakan lampu perangkap (4-6 buah/ha), sifat kepinding tanah dewasa yang suka dan tertarik pada cahaya lampu, maka dalam pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara memasang lampu petromak diatas wadah air.

·      Menggenangi areal persawahan pada umur dua minggu. Genangan air tersebut dimaksudkan untuk menghalangi kepinding tanah bersarang di dasar batang tanaman. Apabila sawah kering maka lakukanlah penggenangan.

·      Penyemprotan menggunakan pestisida jika populasi sudah di ambang ekonomi, yaitu 5 ekor nimfa atau 10 ekor kepinding tanah dewasa/rumpun.

 

 

Sumber:

Syam, M, dkk. Masalah Lapang Hama dan Penyakit Hara pada Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 2015.

Saputra, S dan Haryani S,S. Petunjuk Teknis Hama dan Penyakit Tanaman Padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Riau. 2011