Oleh: Rosma Susiwaty Situmeang, S.P/POPT BPP Banjar
Kepinding tanah
merupakan salah satu hama utama padi yang dapat menyebabkan kerugian besar jika
tidak dikendalikan dengan segera. Nimfa yang baru
menetas berkelompok, kemudian menyebar kearah pangkal batang. Nimfa dan
serangga dewasa menghisap cairan tanaman dari batang atau pelepah daun Kepinding
tanah biasanya menyerang tanaman padi dengan cara menusuk dan mengisap cairan
batang tanaman yang akhirnya dapat menyebabkan warna tanaman berubah menjadi
coklat kemerahan atau kuning. Pada serangan berat ujung atau tepi daun, bagian
tengah daun atau seluruh tanaman menjadi kering. Tanaman yang terserang
kepinding tanah dapat mengakibatkan penurunan produksi karena apabila menyerang
pada fase anakan akan menyebabkan jumlah anakan berkurang dan pertanaman
terhambat atau kerdil. Sedangkan kalau kepinding tanah menyerang pada saat
setelah fase bunting, tanaman menghasilkan malai yang kerdil, tidak lengkap dan
akan menghasilkan gabah hampa. Dalam kondisi populasi kepinding tinggi tanaman
yang dihisap dapat mati.
Pengisapan cairan
oleh kepinding tanah menyebabkan warna tanaman berubah menjadi coklat kemerahan
atau kuning. Buku pada batang merupakan tempat isapan yang disukai karena
menyimpan bayak cairan. Pengisapan oleh
kepinding tanah pada fase anakan, menyebabkan jumlah anakan berkurang
dan pertumbuhan terhambat (kerdil). Apabila serangan terjadi setelah fase
bunting, tanaman menghasilkan malai yang kerdil, eksersi malai yang tidak
lengkap, dan gabah hampa. Dalam kondisi populasi kepinding tinggi, tanaman yang
dihisap dapat mati atau mengalami bugburn, seperti hopperburn oleh wereng
coklat.
Kepinding tanah bergerombol
di pangkal batang padi, persis di batas genangan air pada siang hari. Pada
malam hari mereka naik batang padi dan mengisap cairan dari dalam jaringan
tanaman. Selama musim kemarau, kepinding tanah menghabiskan waktunya di belahan
tanah-tanah yang ditumbuhi rumput. Kepinding tanah dapat terbang ke pertanaman
padi dan berkembang biak dalam beberapa generasi. Mereka kembali ke fase
dormannya setelah padi dipanen. Kepinding dewasa dapat berpindah menempuh jarak
yang jauh dan tertarik pada sinar dengan intensitas yang kuat dan penangkapan
tertinggi diperoleh pada saat bulan purnama.
Populasi kepinding tanah akan cepat
berkembang apabila para petani tidak melakukan tanam serempak, hal ini
menyebabkan ketersediaan pakan bagi kepinding tanah yang biasanya akan dorman
setelah panen padi, namun karena panen dilakukan secara terus menerus akibat
tanam yang tidak serempak maka dormansi dari kepinding ini menjadi pendek.
Selain itu akibat dari cuaca yang tidak menentu yang kadang panas kadang hujan
yang menyebabkan lahan kering basah akan meningkatkan perkembangan populasi
hama kepinding tanah.
Beberapa upaya
yang dapat dilakukan untuk pengendalian
kepinding tanah yaitu:
·
Menggunakan
lampu perangkap (4-6 buah/ha), sifat kepinding
tanah dewasa yang suka dan tertarik pada cahaya lampu, maka dalam
pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara memasang lampu petromak diatas
wadah air.
·
Menggenangi areal persawahan pada umur dua minggu. Genangan
air tersebut dimaksudkan untuk menghalangi kepinding tanah bersarang di dasar
batang tanaman. Apabila sawah kering maka lakukanlah penggenangan.
·
Penyemprotan
menggunakan pestisida jika populasi sudah di ambang ekonomi, yaitu 5 ekor nimfa
atau 10 ekor kepinding tanah dewasa/rumpun.
Sumber:
Syam, M, dkk. Masalah
Lapang Hama dan Penyakit Hara pada Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. Bogor. 2015.
Saputra, S dan Haryani
S,S. Petunjuk Teknis Hama dan Penyakit Tanaman Padi. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian. Riau. 2011