Oleh:
Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Seririt
Penghujung akhir tahun 2025, istilah bibit Siklon Tropis 93S ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan potensi cuaca ekstrim di sejumlah wilayah Indonesia. Bibit Siklon Tropis 93S merupakan sistem cuaca tahap awal yang ditandai oleh tekanan udara rendah di wilayah Samudra Hindia. Pada fase ini, pola angin mulai berputar membentuk sirkulasi siklonal dan diikuti oleh pertumbuhan awan hujan yang cukup aktif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 93S di wilayah Samudra Hindia sehingga menghimbau Pemerintah daerah terkhususnya masyarakat di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun Jawa agar meningkatkan waspada terhadap dampak bibit siklon 93S tersebut dimana adanya potensi hujan lebat, banjir, longsor dan gelombang tinggi.
Dampak tidak langsung bibit siklon tropis
93S mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah
wilayah dalam beberapa hari ke depan. Wilayah yang terdampak antara lain Bali,
NTB dan NTT. Selain itu, gelombang tinggi kategori sedang (1,25-2,5 m) yang
berpotensi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga NTT, perairan
selatan Jawa Timur dan Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan. Berdasarkan hasil
analisis BMKG, kecepatan angin maksimum di sekitar sistem saat ini mencapai 15
knot (28 km/jam) dengan tekanan minimum 1009 hPa. Pengamatan ini menunjukkan
awan konvektif di sekitar 93S belum terorganisasi dengan baik sehingga proses
penguatan sistem diprakirakan berlangsung lambat dalam 24 jam.
Aktivitas siklon ini turut diperkuat oleh gelombang Rosby Ekuator, gelombang frekuensi rendah, kondisi wind shear yang lemah, serta vortisitas kategori sedang di lapisan bawah hingga menengah. BMKG telah memetakan wilayah yang paling berpotensi terkena hujan sedang hingga lebat serta angin kencang di sejumlah wilayah Bali, yaitu: Badung, Denpasar, Tabanan, Jembrana, Bangli, Gianyar, Karangasem, Klungkung dan Buleleng. Resiko bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, banjir dan longsor perlu diantisipasi sesuai tingkat kerawanan masing-masing daerah.
Oleh karena itu pentingnya prinsip early warning dan early action guna meminimalkan resiko dan mencegah kerugian besar pada tanaman budidaya pertanian, terkhususnya tanaman padi. Beberapa cara untuk mencegah potensi kerugian besar agar tanaman padi tidak mudah rebah yaitu : (1) Penggunaan bibit unggul dimana varietas tahan rebah dan cocok untuk musim hujan, memiliki batang tidak terlalu tinggi supaya tidak mudah rebah ketika diterpa angin kencang dan hujan lebat. seperti IR 64 GSR, Inpari 30, Inpari 32 HDB, Inpari 33, Inpari 36, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR dan lain-lain, (2) Pengaturan jarak tanam tanaman padi, dimana bertujuan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada musim hujan. Apabila jarak tanam yang terlalu rapat dapat menyebabkan kondisi lembab dan berpotensi memicu cepat perkembangan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur atau bakteri sehingga diupayakan jarak tanam 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm, (3) Pemupukan yang berimbang, dimana pemberian pupuk Nitrogen memang membuat tanaman padi menjadi lebih hijau dan subur. Namun apabila berlebihan, maka unsur nitrogen menyebabkan tanaman padi terlalu subur dan rentan rebah. Oleh karena itu perlu dilakukan pemupukan secara berimbang, (4) Memperkuat batang tanaman padi dengan pupuk phosphat dan kalium. Pupuk dengan kandungan unsur P (phosphat) dan K (kalium) berfungsi untuk memperkuat batang tanaman padi sehingga menjadi kokoh dan tidak mudah rebah, (5) Deteksi dan pengendalian dini serangan hama dan penyakit, dimana serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan tanaman padi lemah dan mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit terutama yang menyerang pangkal batang sebaiknya dilakukan sedini mungkin, (6) Pengelolaan air dengan baik, hal ini dikarenakan jamur atau bakteri sangat menyukai lingkungan dengan tingkat kelembapan yang tinggi. Oleh karena itu, beberapa penyakit berpotensi lebih sering menyerang saat musim hujan karena terjadinya peningkatan kelembaban. Petani dihimbau untuk mengatur waktu kapan jumlah air harus dikurangi atau bahkan dikeringkan dan kapan air harus dibiarkan, hal ini bertujuan untuk menjaga agar perakaran padi tetap sehat. Selain itu juga bertujuan untuk menjaga tingkat keasaman pada tanah.
Daftar Pustaka
Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. 2025. Perkembangan Bibit Siklon 93S di
Selatan Indonesia, Waspada Hujan dan Gelombang Tinggi di Bali, NTB, NTT. Diakses
pada https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-bibit-siklon-93s-menjauh-waspada-hujan-dan-gelombang-tinggi-di-bali-ntb-ntt
Nurwahyuni,
E., S. Budiyanto dan E. Rohman. 2021. Tanggap Agronomis Lima Varietas Padi
Terhadap Rebah pada Musim Tanam I di Batang. Diakses pada https://jiip.polbangtanyoma.ac.id/index.php/jiip/article/view/86/76
Aziz, S., Sudrajat
dan B. Setia. 2022. Strategi Adaptasi Perubahan Iklim Komoditas Tanaman Padi. Jur.
Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH 9(3):
1494-1499.