Rencana & Strategi

  • Admin Bulelengkab
  • 29 Pebruari 2016
  • Dibaca: 2396 Pengunjung

 

RENCANA STRATEGIS DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN KABUPATEN BULELENG
BAB I. PENDAHULUAN
 
 
 
1.1.Latar Belakang
Rencana Strategis Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng Tahun 2011 – 2016 merupakan dokumen perencanaan yang berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Buleleng Tahun 2011 – 2016. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengamatkan bahwa setiap daerah diwajibkan menyusun RPJMD tersebut, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menyusun Rencana Strategis yang selanjutnya disebut Renstra SKPD.
Rencana Strategis Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng Tahun 2011 – 2016, selain mengacu kepada RPJMD, juga mengandung Renstra Kementerian Pertanian, sehingga diharapkan adanya sinergitas kebijakan, program dan kegiatan. Rencana Strategis ini merupakan dokumen yang dapat menjadi acuan bagi Dinas Pertanian dan Peternakan dan pihak-pihak lain yang terkait lainnya untuk penyusunan rencana, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan pertanian dan peternakan di Kabupaten Buleleng dalam jangka 5 (lima)  tahun ke depan.
 
1.2.Pengertian
Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng ini merupakan rencana 5 (lima) tahunan yang merupakan penjabaran Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program, dan Kegiatan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng.
 
1.3.Maksud dan Tujuan
Maksud disusunnya Renstra Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng Tahun 2011 – 2016 adalah :
 
Sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng dalam menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang akan dibiayai dari APBD maupun APBN.
Sebagai indikator untuk mengukur dan melakukan evaluasi kerja tahunan setiap bidang.
Menjabarkan gambaran tentang kondisi pembangunan pertanian dan peternakan secara umum, sekaligus memahami arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi, misi Dinas dan juga visi, misi Bupati.
Tujuan disusunnya Renstra ini adalah:
 
Sebagai penjabaran visi, misi dan program dalam kegiatan yang mampu merealisasikan visi, misi dan program yang telah ditetapkan.
Untuk memudahkan seluruh jajaran Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program kegiatan secara terpadu, terarah dan terukur.
 
1.4.Landasan Hukum
Renstra Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
 
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 108 tahun 2000 tentang Tata Cara  Pertanggung  Jawaban Kepala Daerah.
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
 
1.5.Hubungan Renstra SKPD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
Kesamaan Renstra SKPD dengan Dokumen Perencanaan lainnya mengacu kepada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.
Renstra Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng tahun 2011 – 2016 merupakan penjabaran visi, misi dan program Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng yang penyusunannya berpedoman pada RPJMD Kabupaten Buleleng Tahun 2011 – 2016 dan Renstra Kementerian Pertanian.
 
1.6.Sistematika
Penulisan Renstra ini dengan kata pengantar dan selanjutnya dituangkan dalam 5 (lima) BAB yaitu:
 
BAB I.Pendahuluan yang memuat Latar Belakang, Maksud dan Tujuan, Landasan Hukum, Hubungan Renstra SKPD dengan Dokumen Perencanaan lainnya serta Sistematika Penulisan.
BAB II.Gambaran umum yang yang mencakup kondisi saat ini, Isu Strategis dan Analisa SWOT.
BAB III.Perencanaan Strategik yang menguraikan visi, misi dan nilai, rumusan visi dan misi serta tujuan dan sasaran.
BAB IV. Program dan Kegiatan yang memuat penjelasan tentang program SKPD dan Kegiatan
BAB V.Penutup yang berisi Kesimpulan
 
 
 
 
BAB II.GAMBARAN UMUM
 
 
 
2.1. Kondisi Saat Ini
2.1.1. Luas Wilayah dan Letak Geografis
Kabupaten Buleleng merupakan salah satu kabupaten terluas di Provinsi Bali, dengan luas wilayah 136.558 hektar atau 24,25% dari luas Provinsi Bali. Secara administrasi terdiri dari 9 kecamatan dengan 148 Desa/Kelurahan.
Secara geografis Kabupaten Buleleng terletak pada posisi 8o03’40’’ – 8o23’00’’ Lintang Selatan dan 114o25’55’’ – 115o27’28’’ Bujur Timur.
Kabupaten Buleleng berbatasan dengan Kabupaten Jembrana di bagian barat, Laut Jawa/Bali di bagian utara, Kabupaten Karangasem di bagian timur dan berbatasan dengan 4 (empat) kabupaten, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung dan Bangli di sebelah selatan.
 
2.1.2. Topografi
Kabupaten Buleleng yang terletak di belahan utara pulau Bali topografinya sangat beragam, yaitu terdiri dari dataran rendah, perbukitan dan pegunungan.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit dan bergunung membentang di bagian selatan, sedangkan di bagian utara yakni sepanjang pantai merupakan dataran rendah.
Dilihat dari kondisi morfologi atau topografi daerah Buleleng, sebagian luas lahannya 70.226,0 ha (51,41%) merupakan daerah landai, sebagian lagi 21.462,75 ha (15,71%) daerah miring dan 32.634,50 ha (23,89%) daerah terjal. Sisanya 12.264,75 ha (8,98%) daerah datar.
 
2.1.3. Hidrologi
1). Air Tanah
Berdasarkan hasil penyelidikan air tanah yang telah dilaksanakan di beberapa kecamatan di Kabupaten Buleleng, melalui pengeboran eksplorasi dan berdasarkan perhitungan diperkirakan sumber air tanah efektif tercatat 10,857 juta m2. Pemanfaatan air tanah yang dipergunakan untuk air bersih (PDAM), untuk keperluan pertanian dan air minum masyarakat.
 
 
2). Air Permukaan
Sumber-sumber air permukaan di Kabupaten Buleleng meliputi air yang berasal dari sungai, bendungan, danau, dan mata air. Potensi air yang berasal dari sungai, dikelompokkan ke dalam sub satuan wilayah sungai (sub sws) mulai dari sub sws 03.01.08 – 03.01.12, dengan jumlah sungai sebanyak 51 buah, dengan total debit aliran sebanyak 637 juta m3 per tahun. Debit air bulanan yang tinggi pada semua sub sws umumnya terjadi bulan Desember sampai April.
Sumber-sumber air lainnya yaitu bendungan Gerokgak dengan potensi sebanyak 2,50 juta m3/tahun. Mata air tercatat sebanyak 277 buah yang diperoleh sekitar 69,060 juta m3 tetapi yang merupakan sumber air potensial dan efektif diperkirakan mencapai 48,342 juta m3.
Kabupaten Buleleng mempunyai 2 (dua) buah danau yang terletak di Kecamatan Banjar (Danau Tamblingan) dan di Kecamatan Sukasada (Danau Buyan). Kedua danau alam tersebut merupakan danau yang tertutup, artinya antara air yang masuk dan yang keluar seimbang. Potensi air danau adalah 143,25 juta m3/tahun, yang berasal dari Danau Buyan, 116,25 juta m3/tahun dan dari Danau Tamblingan 27,00 juta m3/tahun.
 
 
3). Curah Hujan
Selain air permukaan dan air tanah, sumber daya air juga didapatkan dari curah hujan. Curah hujan terdiri dari curah hujan potensial, curah hujan efektif dan curah hujan tampungan. Data curah hujan yang tersedia pada tahun 2002 merupakan hasil perhitungan dan pengukuran di beberapa stasiun klimatologi/curah hujan yaitu di stasiun Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Sukasada, Kubutambahan dan Tejakula diketahui curah hujan tersedia/potensial adalah sebesar 6,662 juta m3.
Curah hujan efektif adalah curah hujan potensial dikurangi dengan besarnya evapotranspirasi. Curah hujan efektif Kabupaten Buleleng adalah 3,090 juta m3. Curah hujan tampungan diperhitungkan berdasarkan jumlah curah hujan yang benar-benar ditampung untuk keperluan keluarga, terutama di musim kemarau pada daerah kritis seperti daerah berbukit (Kecamatan Gerokgak, Seririt, Kubutambahan dan Tejakula). Penampungan air hujan itu dengan membuat bak penampungan yang disebut PAH/Cubang yang jumlah seluruhnya sekitar 823 buah dengan kapasitas rata-rata ± 5 m3 setiap cubang. Berdasarkan pencatatan tersebut jumlah air hujan yang ditampung langsung sebesar 0,27 juta m3.
 
 
 
2.1.4. Iklim
Kabupaten Buleleng memiliki iklim laut tropis yang dipengaruhi oleh angin musim dan terdapat musim kemarau serta hujan. Faktor ketinggian tempat menentukan besarnya curah hujan. Pada daerah pegunungan terutama di bagian selatan sekitar Danau Tamblingan curah hujan terdapat pada setiap bulan atau sepanjang tahun hampir tidak terdapat bulan-bulan kering.
1)Pola Curah Hujan
Pola curah hujan di Kabupaten Buleleng, khususnya untuk daerah bagian bawahnya (< 100 m dpl), memiliki pola 4-5 bulan basah (CH>100 mm/bulan) dan 7-8 bulan kering (CH<60 mm/bulan). Pola curah hujan demikian, disebut tipe iklim F. Besar curah hujan rata-rata tahunan bervariasi  antara <1.500 mm/tahun untuk daerah-daerah bagian bawah, seperti di wilayah Kecamatan Gerokgak (1,056 mm/tahun), dan daerah-daerah bagian atas >1.500 mm/tahun seperti Kecamatan Busungbiu (2.750 mm/tahun).
2)Temperatur dan Kelembaban Udara
Temperatur udara rata-rata di Kabupaten Buleleng adalah 27,05oC, dengan temperatur rata-rata tertinggi 29oC yang terjadi pada bulan Mei sampai dengan Oktober. Selanjutnya, temperatur rata-rata terendah 26OC pada bulan Agustus. Kelembaban udara tidak terlalu berfluktuasi, dimana kisarannya anatara 77% samapai dengan 82% dengan kelembaban udara rata-rata tahunan adalah sebesar 78,4%.
 
 
 
 
2.1.5. Lahan
Lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan meliputi lahan sawah dan lahan kering pekarangan dan tegal (kebun) dengan luas di masing-masing kecamatan di Kabupaten Buleleng dapat digambarkan seperti pada Tabel 1.
 
        Tabel 1. Luas Lahan Sawah Kering Tahun 2009
No Kecamatan

Luas Sawah 

(ha)

Pekarangan

(ha)

Tegal /

Kebun

(ha)

1
 
Tejakula
 
-
 
616 4097
2
 
Kubutambahan
 
530 425 5656
3
 
Sawan
 
2692 591 1247
4
 
Sukasada
 
2227 516 4543
5
 
Buleleng
 
1771 1456 1082
6
 
Banjar
 
662 448 4295
7
 
Seririt
 
1627 531 5464
8

Busungbiu

958 320 5706
9
Gerokgak
 
 
603 574 6549
Jumlah : 11070 5477 38639
 
Dari luas lahan sawah tersebut diatas terdapat 9.788 Ha beririgasi setengah teknis 561 Ha beririgasi sederhana dan irigasi desa serta 231 Ha irigasi tadah hujan dengan potensi dapat ditanami padi 2 (dua) kali setahun seluas 7.053 Ha dan sisanya 3.527 Ha hanya dapat ditanami padi 1 (satu) kali setahun.
Pemanfaatan lahan sawah di Kabupaten Buleleng cukup baik sedangkan pemanfaatan lahan kering belum optimal yang dipengaruhi oleh kondisi lahan yang potensial kritis.
Rata-rata pemanfaatan lahan sawah (IP) dalam setahun 240% dengan rincian seperti tercantum pada Tabel 2.
 
Tabel 2. Pemanfaatan Lahan Sawah di Kabupaten Buleleng Tahun 2009:
 
No Kecamatan

Luas Lahan

(ha)

Luas Tanam

Lahan Sawah

(Ha)

IP

(%)

1 Tejakula - -

-

2

Kubutambahan
 
530 1272 310

3

Sawan
 
2692 5655 285

4

Sukasada
 
2227 3944 226

5

Buleleng
 
1771 3015 212

6

Banjar
 
662 1329 224

7

Seririt
 
1627 3418 261

8

Busungbiu
 
958 2186 298

9

Gerokgak
 
603 678 288
Jumlah : 11070 21497 257

 

 

Daerah lahan kering (tegal/kebun) untuknya dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura dan palawija. Pada lahan kering di beberapa kecamatan telah berkembang sentra komoditas hortikultura antara lain: jeruk, rambutan, mangga, bawang merah, kentang dan sayuran dataran tinggi lainnya. Demikian juga pada lahan pekarangan potensial dikembangkan berbagai tanaman pangan seperti umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan yang diarahkan untuk menghasilkan pangan dalam rangka mendukung diversifikasi konsumsi sesuai yang dianjurkan yaitu agar mengkonsumsi pangan beragam bergizi dan seimbang.
Kabupaten Buleleng mempunyai potensi yang cukup luas untuk pengembangan perternakan. Ternak merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki fungsi sosial budaya dan ekonomi yang cukup penting bagi masyarakat, disamping sebagai sebagai salah satu penunjang sektor pariwisata. Pengembangan ternak tersebar di seluruh Kabupaten Buleleng.
 
Tabel 3. Populasi Ternak di Kabupaten Buleleng Tahun 2009
 
No Kecamatan

Sapi

Potong

Kerbau Kuda Babi Kambing Ayam Itik

1

Tejakula
 
24316 - - 26355 296 161292 4428

2

Kubutambahan
 
13797 - 1 26291 927 198770 3829

3

Sawan
 
9423 11 - 15631 220 142545 14507

4

Sukasada
 
17926 20 2 16726 2729 98736 7906

5

Buleleng
 
6364 - 17 15296 311 95408 6661

6

Banjar
 
12531 15 1 15157 4963 94413 3785

7

Seririt
 
14035 104 1 18421 2344 119067 40166

8

Busungbiu
 
3905 - - 9011 15613 112334 8144

9

Gerokgak
 
44334 31 45 66198 3354 191891 5170
Jumlah : 146631 181 67 20908 30757 1214456 94596

 

2.1.6.Modal
Terbatasnya modal baik fisik maupun skill yang dimiliki sebagian besar Petani dan Peternak mengakibatkan produktivitas usaha tani mereka belum maksimal. Penguatan modal bagi para Petani dan Peternak perlu dikembangkan melalui kelompok tani.
 
2.1.7.Teknologi
Pada umumnya penerapan teknologi oleh para Petani maupun peternak belum sesuai dengan anjuran. Permasyarakatan paket teknologi baik teknologi on farm maupun teknologi off farm agar lebih ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan pertanian.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi usaha tani perlu adanya pengkajian-pengkajian sehingga diperoleh rekomendasi paket teknologi spesifik lokasi.
 
2.1.8.Komoditas Unggulan
1)Tanaman Pangan
Komoditas unggulan tanaman pangan yang diprioritaskan pengembangannya adalah:
 
Padi Sawah
Palawija meliputi komoditas jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau
Hortikultura terdiri dari Sayuran dan buah-buahan.
Komoditas sayuran meliputi bawang merah, cabe, kacang panjang, kentang dan kubis.
Komoditas Buah-buahan meliputi: Anggur, Durian, Mangga, Manggis dan Rambutan.
 
2)Peternakan
Komoditas unggulan peternakan yang diprioritaskan pengembangannya adalah Ayam buras, Babi, Ayam ras petelur, Ayam ras Pedaging, Itik, Kambing dan Sapi.
 
2.2.Isu Strategis
Pembangunan Sub Sektor Pertanian dan Peternakan didalam mengarungi perjalanan selama ini tidak semudah apa yang diperkirakan. Hal ini disebabkan karena pertanian dan peternakan didominasi oleh usaha sekala kecil, mempunyai lahan sempit, bermodal kecil dan memiliki produktivitas yang rendah. Kondisi ini memberikan dampak yang kurang menguntungkan atau rentan terhadap isu strategis yang berkembang seperti kelangkaan pupuk, penyakit flu burung dan rabies.
Dalam upaya peningkatan produktivitas dan mutu komoditas hasil pertanian menjadikan pupuk sebagai sarana produksi yang sangat strategis bagi petani. Berdasarkan peran penting tersebut maka kebijakan pemerintah diarahkan pada terwujudnya pasar yang kondusif dimana terjadinya persaingan perdagangan yang sehat dan pupuk yang tersedia di lapangan sesuai dengan azas 6 (enam) tepat yaitu tepat jumlah, jenis, tempat, waktu harga dan mutu.
Pupuk merupakan sarana produksi yang berperan penting dalam upaya peningkatan produktivitas dan mutu hasil komoditas pertanian, menjadikan pupuk sebagai sarana produksi yang sangat strategis bagi petani.
Berkembangnya isu kelangkaan pupuk ditingkat lapangan bisa disebabkan sebagai akibat distribusi pupuk sampai ditingkat petani belum memenuhi azas 6 (enam) tepat yaitu tepat waktu, jumlah, jenis, tempat, mutu dan harga yang layak. Disamping itu daya beli petani yang relatif lemah menyebabkan penggunaan pupuk ditingkat petani cendrung kurang memperhatikan dosis anjuran, masih adanya kasus-kasus keterlambatan penyusunan/penyetoran RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) dan RDKK yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil.
Upaya-upaya yang dilaksanakan berkaitan dengan permasalahan tersebut adalah:
 
Peningkatan pengawasan distribusi dan ketersediaan stok, serta pelayanan pupuk oleh pengecer resmi di lini IV dilaksanakan oleh distributor dan produsen pupuk penanggung jawab rayon.
Peningkatan pengawasan kesiapan dan keabsahan RDKK serta pemanfaatan pupuk oleh subak/kelompok tani dilaksanakan oleh PPL, Mantri Tani serta Tim Pengawas Pupuk dan Pestisida Kabupaten berkoordinasi dengan Provinsi.
 
Flu Burung merupakan salah satu penyakit yang sangat populer saat ini. Hal ini disebabkan penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menular pada manusia (zoonosis) dan menyebabkan kematian.
Penyakit ini  dapat menimbulkan resiko pandemi karena sebagian besar penduduk Indonesia khususnya di Bali baik dalam tatanan sosial-ekonomi maupun kultural, akrab dengan unggas.
Penyebaran dan perkembangan penyakit flu burung di Kabupaten Buleleng sampai saat ini hampir keseluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Buleleng, namun belum ada kasus/kematian pada manusia.
Untuk mencegah penyabaran flu burung yang lebih luas maka upaya-upaya yang dilakukan adalah :
a.Peningkatan kesadaran masyarakat.
b.Pelaksanaan biosekuriti secara ketat.
c.Pemusnahan unggas selektif (depopulasi) di daerah tertular
d.Dilaksanakan vaksinasi.
e.Pengendalian lalu lintas unggas.
f.Penutupan masuknya unggas dari luar Bali.
g.Tindakan pemusnahan unggas secara menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru.
h.Survelance dan penelusuran.
Rabies dikenal dengan penyekit anjing gila, merupakan penyekit hewan menular disebabkan oleh virus golongan Rhobdovirus dan bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia). Semua hewan berdarah panas seperti anjing, kucing dan kera dapat tertular penyakit rabie serta berpotensi menularkan penyakit rabies kepada manusia. Penyakit ini bersifat akut dan menyerang susunan syaraf pusat. Penyakit rabies pada manusia sebagian besar ditularkan melalui gigitan hewan penderita/hewan penderita rabies (HPR) yakni 90% karena gigitan anjing, 6% oleh kucing, 3% oleh kerra dan 1% oleh rubah. Karena sebagian besar penderita rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing, maka anjing menjadi prioritas/obyek utama sasaran kegiatan pemberantasan rabies termasuk kucing dan kera.
 
2.3.Analisis Lingkungan Strategis
Lingkungan Strategis yang menjadi acuan analisis terdiri dari Lingkungan Strategis yang bersifat Internal dan Eksternal:
1.Komponen Lingkungan Internal yang menjadi kekuatan (Strength) adalah:
a.Sumber Daya Alam yaitu lahan sawah dan lahan klering yang tersedia cukup luas dan sangat potensial untuk pengembangan komoditas tanaman pangan dan komoditas peternakan.
b.Sumber Daya Manusia sebagai pelaku pembangunan pertanian dan peternakn jumlahnya cukup besar.
c.Kelembagaan yang ada sebagai pendukung pembangunan pertanian cukup memadai.
 
2.Komponen Lingkungan Internal yang menjadi kelemahan (Weakness) adalah:
a.Kualitas, Produktivitas dan Sikap/moral Sumber Daya Pertanian rendah.
b.Sumber Daya Alam yang tersedia belum diusahakan secara optimal.
c.Koordinasi kelembagaan yang terkait masih lemah.
 
3.Komponen Lingkungan Eksternal yang dipandang sebagai peluang (Oportuning) adalah:
a.Terbukanya pasar domestik maupun eksport.
b.Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c.Demokratisasi dan semangat desentralisasi.
 
4.Komponen Lingkungan Internal yang menjadi tantangan (Threats) adalah:
a.Kualitas produk hasil pertanian dan peternakan rendah.
b.Produktivitas usahatani belum optimal.
c.Kontinuitas produk belum terpenuhi.
 
 
 
 
 
 
BAB III. PERENCANAAN STRATEGIK
 
 
 
 
 
3.1.Visi
Visi adalah pandangan jauh ke depan, kemana dan bagaimana Instansi Pemerintah harus dibawa dan berkarya agar tetap konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif serta produktif.
Visi Dinas pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng merupakan implementasi dalam mendukung bidang ekonomi dan merupakan sinergi dari SWOT yaitu: Kekuatan/Strength (S), Kelemahan/Weakness (W), Peluang/Oportuning (O) dan Tantangan/Threat (T), Tata Nilai dan Kesepakatan Stake Holder (Pihak yang berkepentingan).
Visi Dinas Pertanian dan Peternakan yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategik
Share Post :