PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DAN USAHA PENINGKATAN PRODUKSI DAGING SAPI

  • Admin Distan
  • 16 Agustus 2019
  • Dibaca: 483 Pengunjung

 PENDAHULUAN

Sumber daya peternakan, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable) dan berpotensi untuk dikembangkan guna meningkatkan dinamika ekonomi. Menurut Saragih dalam Mersyah (2005), ada beberapa pertimbangan perlunya mengembangkan usaha ternak sapi potong, yaitu: 1) budi daya sapi potong relatif tidak bergantung pada ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang berkualitas tinggi, 2) memiliki kelenturan bisnis dan teknologi yang luas dan luwes, 3) produk sapi potong memiliki nilai elastisitas terhadap perubahan pendapatan yang tinggi, dan 4) dapat membuka lapangan pekerjaan.

Pembangunan peternakan ditujukan untuk meningkatkan produksi hasil ternak yang sekaligus meningkatkan pendapatan peternak, menciptakan lapangan pekerjaan serta meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak. Berdasarkan dan mengacu pada visi pembangunan peternakan, maka telah digariskan Misi Pembangunan Peternakan yaitu : 1) memfasilitasi penyediaan pangan asal ternak yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya, 2) memberdayakan sumberdaya manusia peternakan agar dapat menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, 3) menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan peternakan, 4) membantu menciptakan lapangan kerja di bidang agribisnis peternakan dan 5) melestarikan serta memanfaatkan sumber-daya alam pendukung peternakan (Anonimous, 2001).

Sementara itu tujuan khusus pembangunan peternakan tersebut adalah 1) meningkatkan kuantitas dan kualitas bibit ternak, 2) mengembangkan usaha budidaya untuk meningkatkan populasi, produktivitas dan produksi ternak, 3) meningkatkan dan mempertahankan status kesehatan hewan, 4) meningkatkan jaminan keamanan pangan hewani yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) dan 5) meningkatkan pelayanan prima pada masyarakat peternakan (Bahri et al., 2008).

 

PEMBAHASAN

 

Permasalahan dalam perkembangan usaha ternak potong

Berbagai kebijakan dan program yang terkait dengan pengembangan usaha ternak sapi potong telah diluncurkan dan diimplementasikan, baik secara nasional maupun di tingkat daerah. Dalam implementasinya, program dan kebijakan tersebut masih belum mampu mengatasi kesenjangan antara permintaan dan penawaran. Menurut Ilham dan Hadi (2001), hal ini disebabkan oleh :

  1. Belum semua program yang dilakukan pemerintah sampai pada peternak.

Seandainyapun sampai, peternak tidak mengaplikasikannya, Keberhasilan penerapan teknologi peternakan belum merata.

  1. Pengembangan usaha peternakan masih belum menjadi prioritas utama pemerintah, sehingga dana program untuk sub sektor peternakan masih relatif kecil dibandingkan dengan sub sektor lainya.
  2. Kebijakan intensifikasi pada lahan sawah mengurangi penggunaan tenaga kerja ternak, sehingga banyak petani tidak lagi mengusahakan ternak sapi.
  3. Masih banyak ternak sapi yang dipelihara secara ekstensif, sehingga menyulitkan dalam pengendalian penyakit dan terjadinya penurunan genetik akibat
  4. Menyempitnya lahan padang penggembalaan akibat alih fungsi lahan.
  5. Kualitas sumberdaya rendah.
  6. Produktivitas rendah.

Sapi lokal Indonesia memiliki bobot potong relatif rendah (sapi bali, sapi madura, sapi PO, sapi aceh, sapi pesisir) dibandingkan dengan sapi Bos taurus akibat terjadinya persilangan dalam (in breeding) dan manajemen pemeliharaan yang belum efisien dan tingkat kematian ternak yang tinggi, terutama kematian pedet yang mencapai 20-40% dan induk berkisar antara 10-20%.

  1. Akses ke pemodal sulit.
  2. Pemotongan sapi betina produktif.

Terjadinya pemotongan sapi betina produktif selama ini penyebab utamanya adalah motif ekonomi bagi pemiliknya yang rata-rata income pendapatannya masih rendah dengan tingkat kepemilikan sapi potong hanya rata-rata 2-3 ekor. Para peternak cenderung akan menjual ternak mereka ketika menghadapi permasalahan finansial dengan pertimbangan bahwa sapi potong merupakan asset yang paling mudah dijual tanpa mempertimbangkan produktifitas ternak tersebut.

  1. kondisi peternakan sapi potong di Indonesia yang lebih dari 90% berupa peternakan rakyat. Ciri-ciri peternakan rakyat adalah :
  • Skala usaha relatif kecil, berkisar antara 1- 5 ekor
  • Merupakan usaha rumah tangga
  • Pemeliharaan bersifat tradisional
  • Ternak sering digunakan sebagai sumber tenaga kerja
  • Ternak sebagai penghasil pupuk kandang dan tabungan yang memberikan rasa aman pada musim paceklik (Muladno 1999; Eni et al. 2006).
  1. Rendahnya perkembangan populasi sapi potong.
  • kawin berulang (S/C > 2) dan rendahnya angka kebuntingan (< 60%) sehingga jarak beranak (calving interval) menjadi panjang (> 18 bulan). Kondisi ini akan berdampak terhadap rendahnya perkembangan populasi sapi per tahun dan menurunnya pendapatan petani dari usaha ternak.
  • manajemen perkawinan yang tidak tepat, seperti: pola perkawinan kurang benar, pengamatan berahi dan waktu kawin tidak tepat, rendahnya kualitas atau kurang tepatnya pemanfaatan pejantan dalam kawin alam, kurang terampilnya petugas inseminasi buatan (IB), rendahnya pengetahuan peternak tentang IB. Pada perkawinan alami, peternak sulit memperoleh pejantan, apalagi yang berkualitas, sehingga pedet yang dihasilkan bermutu rendah, bahkan terindikasi terjadi kawin keluarga (inbreeding)
  1. Kondisi ekonomi pasar sapi domestik tidak stabil dan berpola acak karena adanya pengaruh pasar sapi dan daging luar negeri dan variabel-variabel pasar lainnya. Pasar sapi dalam negeri juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hal ini terjadi karena volume impor sapi dan daging Indonesia mencapai 30% dari total kebutuhan pasar dalam negeri. Kebutuhan daging yang tidak seimbang dengan pasokan mengakibatkan harga daging menjadi tidak menentu.

Upaya pengembangan sapi potong telah lama dilakukan oleh pemerintah. Nasoetion dalam Winarso et al. (2005) menyatakan bahwa dalam upaya pengembangan sapi potong, pemerintah menempuh dua kebijakan, yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi. Pengembangan sapi potong secara ekstensifikasi menitikberatkan pada peningkatan populasi ternak yang didukung oleh pengadaan dan peningkatan mutu bibit, penanggulangan penyakit, penyuluhan dan pembinaan usaha, bantuan perkreditan, pengadaan dan peningkatan mutu pakan, dan pemasaran. Menurut Isbandi (2004), penyuluhan dan pembinaan terhadap petani-peternak dilakukan untuk mengubah cara beternak dari pola tradisional menjadi usaha ternak komersial dengan menerapkan cara-cara zooteknik yang baik. Zooteknik tersebut termasuk saptausaha beternak sapi potong, yang meliputi penggunaan bibit unggul, perkandangan yang sehat, penyediaan dan pemberian pakan yang cukup nutrien, pengendalian terhadap penyakit, pengelolaan reproduksi, pengelolaan pascapanen, dan pemasaran hasil yang baik.

Keberhasilan pengembangan usaha ternak sapi potong ditentukan oleh dukungan kebijakan yang strategis yang mencakup tiga dimensi utama agribisnis, yaitu kebijakan pasar input, budi daya, serta pemasaran dan perdagangan dengan melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat peternak. Dari ketiga dimensi tersebut, kebijakan pemasaran (perdagangan) memegang peranan kunci. Keberhasilan kebijakan pasar outputakan berdampak langsung terhadap bagian harga dan pendapatan yang diterima pelaku agribisnis. Kondisi ini akan memantapkan proses adopsi teknologi, peningkatan produktivitas, dan pada akhirnya menjamin keberlanjutan investasi.

Agar pengembangan sapi potong berkelanjutan, Winarso et al. (2005) mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :

  • perlunya perlindungan dari pemerintah daerah terhadap wilayah-wilayah kantong ternak, terutama dukungan kebijakan tentang tata ruang ternak serta pengawasan terhadap alih fungsi lahan pertanian yang berfungsi sebagai penyangga budi daya ternak
  • pengembangan teknologi pakan terutama pada wilayah padat ternak, antara lain dengan memanfaatkan limbah industri dan perkebunan (Gordeyase et al. 2006; Utomo dan Widjaja 2006)
  • untuk menjaga sumber plasma nutfah sapi potong, perlu adanya kebijakan impor bibit atau sapi bakalan agar tidak terjadi pengurasan terhadap ternak lokal dalam upaya memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam negeri.

Usaha untuk mencapai tujuan pengembangan sapi potong dapat dilaksanakan dengan tiga pendekatan yaitu ; 1) pendekatan teknis dengan meningkatkan kelahiran, menurunkan kematian, mengontrol pemotongan ternak dan perbaikan genetik ternak, 2) pendekatan terpadu yang menerapkan teknologi produksi, manajemen ekonomi, pertimbangan sosial budaya yang tercakup dalam “sapta usaha peternakan”, serta pembentukan kelompok peternak yang bekerjasama dengan instansi terkait, 3) pendekatan agribisnis dengan tujuan mempercepat pengembangan peternakan melalui integrasi dari keempat aspek yaitu lahan, pakan, plasma nutfah dan sumberdaya manusia (Gunardi 1998).

 

Peningkatan produksi daging sapi

Produksi daging sapi dalam negeri yang belum mampu memenuhi permintaan tersebut terkait dengan adanya berbagai permasalahan dalam pengembangan sapi potong. Beberapa permasalahan tersebut adalah:

  • Usaha bakalan atau calf-cow operation kurang diminati oleh pemilik modal karena secara ekonomis kurang menguntungkan dan dibutuhkan waktu pemeliharaan yang lama.
  • Adanya ke- terbatasan pejantan unggul pada usaha pembibitan dan peternak.
  • Ketersediaan pakan tidak kontinu dan kualitasnya rendah terutama pada musim kemarau.
  • Pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri pertanian sebagai bahan pakan belum optimal.
  • Efisiensi reproduksi ternak rendah dengan jarak beranak (calving interval) yang panjang (Maryono et al. 2006).
  • Terbatasnya sumber bahan pakan yang dapat meningkatkan produktivitas ternak dan masalah potensi genetik belum dapat diatasi secara optimal (Kariyasa 2005; Santi 2008).
  • Gangguan wabah penyakit (Isbandi 2004).

Strategi pembangunan peternakan dalam rangka peningkatan produksi daging adalah:

  1. Pengembangan wilayah berdasarkan komoditas ternak unggulan.
  2. Pengembangan kelembagaan petani peternak.
  3. Peningkatan usaha dan industri peternakan.
  4. Optimalisasi pemanfaatan dan pengamanan serta perlindungan sumberdaya alam lokal.
  5. Pengembangan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
  6. Meningkatkan produktivitas sapi potong perlu dilakukan pemuliaan terarah melalui perkawinan, baik secara alami maupun melalui Inseminasi Buatan (IB), bergantung pada kondisi setempat.
  7. Penerapan konsep kemitraan antara peternak sebagai mitra dan pihak kelompok peternak perlu dilakukan sebagai upaya khusus agar usaha ternak sapi potong, baik sebagai usaha pokok maupun pendukung dapat berjalan seimbang.

Upaya khusus tersebut meliputi antara lain pembinaan finansial dan teknik serta aspek manajemen. Pembinaan manajemen yang baik, terarah, dan konsisten terhadap peternak sapi potong sebagai mitra akan meningkatkan kinerja usaha, yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan. Oleh karena itu, melalui kemitraan, baik yang dilakukan secara pasif maupun aktif akan menumbuhkan jalinan kerja sama dan membentuk hubungan bisnis yang sehat

  1. Dalam strategi pengembangan ternak sapi potong ini harus melibatkan instansi lintas sektoral, khususnya di luar Kementerian Pertanian. Dalam hal pengadaan dan pemasaran hasil dapat dilakukan kerjasama dengan swasta. Didalam kerjasama ini akan terlihat hubungan secara vertikal yang memberdayakan kelompok peternak secara optimal yang tujuannya adalah dalam satu kelompok akan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Sehingga pada era perdagangan bebas ini, sistem produksi pertanian khususnya peternakan harus senantiasa dikelola dengan berorientasi pada permintaan pasar.

 

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Peningkatan permintaan terhadap daging sapi membuka peluang bagi pengembangan sapi potong lokal dengan skala agribisnis melalui pola kemitraan.
  2. Untuk meningkatkan peran sapi potong sebagai sumber pemasok daging dan pendapatan peternak, disarankan untuk menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dengan perbaikan manajemen pakan, peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit.
  3. Perbaikan reproduksi dilakukan dengan IB dan penyapihan dini pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Untuk memperbaiki mutu genetik, sapi bakalan betina diupayakan tidak keluar dari daerah pengembangan untuk selan- jutnya dijadikan induk melalui grading up.


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimuous . 2001. Identifi- kasi dan Kajian Agribisnis Peternakan di 13 Provinsi di Indonesia. Volume III Buku I, III, dan IV, Nexus Indo Consultama, Jakarta. hlm. 467.

Bahri, S., B. Setiadi, dan I. Inounu. 2004. Arah penelitian dan pengembangan peternakan tahun 2005-2009. hlm. 6-10. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor, 4-5 Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Eni, S.R., N. Amali, Sumanto, A. Darmawan, dan A. Subhan. 2006. Pengkajian integrasi usaha tani jagung dan ternak sapi di lahan kering Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 9(2): 129­139.

Gordeyase, I.K.M., R. Hartanto, dan W.D. Pratiwi. 2006. Proyeksi daya dukung pakan limbah tanaman pangan untuk ternak rumi- nansia di Jawa Tengah. J. Indon. Trop. Anim. Agric. 32(4): 285-292.

Ilham,

(Oleh : Putu Suwardiyasa, SP, M.I.L)

 

Share Post :